Secret lover#7
Patah hati
Hati tidak akan mudah patah bila selalu ada cinta didalamnya
Hati tidak akan hancur bila cinta itu terus berkembang
Tapi hati juga selembut salju, akan lenyap bila terkena embun meski hanya setetes.
Bila kesetiaan terlanjur luntur…bila kepercayaan bukan lagi yang utama.
Acara peluncuran buku Anna berjalan dengan cukup sukses.Wartawan dan
penggemarnya yang hadir cukup puas dengan materi yang disuguhkan mengenai anak- anak.Setidaknya sesuatu yang ditakutkan Anna tidak terjadi.Mereka tidak menyinggung soal ketidakhadiran suaminya meski tema yang menonjol dibuku Anna mengenai hubungan suami istri.Kehadiran Fatur yang bersedia menjadi badut membuat suasana yang menegangkan menjadi gelak tawa.Anna cukup bersyukur ada seseorang disampingnya ketika berada dipuncak keputusasaan.Meski seharusnya orang itu adalah suaminya sendiri.
Masalah yang satu sudah selesai dan Anna ingin hubungannya dengan Reza kembali seperti dulu.Tidak seorangpun yang harus dipersalahkan bila hubungan mereka menjadi sangat hambar.Mungkin Anna kurang memperhatikannya terakhir ini meski keadaannya sudah berubah semenjak lama.Kesuksesan tidak akan menjamin kehidupan seseorang akan terus bahagia.Bahkan kesuksesan itu harus ditebus dengan airmata dan kehancuran.Anna berharap masih ada waktu untuk menyelamatkan rumah tangga mereka.Meski hatinya sedikit hancur dan berharap masih ada cinta untuk membuatnya kembali seperti dulu.
“Selamat siang bu…”
Donna sedikit terkejut ketika istri atasannya itu sudah berada dihadapannya.Terakhir ini dia merasa bersalah karena sudah memberikan kaset itu kepadanya.Berharap tidak terjadi apapun yang bisa merusak rumah tangga mereka.
“Apa kita bisa bicara sebentar..?”
“Sebenarnya saya masih sibuk…bapak khan akan pulang besok.Jadi semua file harus cepat saya siapkan…”
Donna mencoba mengelak.Tapi sepertinya dia harus bisa menghadapi masalah yang terlanjur dibuatnya.
“Hanya sebentar..aku tidak akan menyita waktumu terlalu lama.Mungkin sekalian makan siang….”
Memang sudah waktunya makan siang.Donna sudah terperangkap dan tidak ada alasan lagi untuk mencoba melarikan diri.
“Aku akan bicara langsung saja…soal vcd itu.Kamu mengenal wanita yang terlihat sedang bersama suamiku?”
Diatas meja sudah tersedia aneka makanan yang sangat lezat.Tapi selera makan Donna langsung hilang ketika Anna menyebut soal vcd yang diberikannya beberapa hari lang lalu.
“Maaf bu…soal wanita itu.Saya tidak mengenalnya…waktu itu saya sibuk mempersiapkan makalah untuk seminar.Jadi tidak tahu apa yang terjadi…”
“Jadi kamu mencoba untuk cuci tangan…aku yakin kamu tahu yang sebenarnya terjadi.Masalah ini cukup berat dan aku tidak sedang berpura-pura tidak terjadi apapun.Kamu tahu berapa kali suamiku pergi keBandung ? dalam sebulan ini saja hampir sepenuhnya dia berada disana.Masalah kerjaan tapi kenapa kamu malahan ada disini?aku yakin kamu adalah orang kepercayaan suamiku jadi tidak ada alasannya kenapa kamu tidak ikut bersamanya…”
Wajah Donna semakin pucat.Anna yakin sekertaris suaminya itu menyembunyikan sesuatu.Sesuatu yang sangat pahit tapi Anna harus mengetahuinya.
“Wanita itu memang pernah beberapa kali menelephone kekantor…tapi saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan.Hanya saja wanita itu sepertinya sangat yakin kalau bapak mau menerima telephonenya…”
Sedikit demi sedikit mulai terkuak.Anna menahan napasnya dalam-dalam.Mencoba untuk menguatkan hatinya karena cerita itu masih panjang.Hanya saja Donna seakan tidak ingin Anna mengetahui semuanya.
“Aku sangat menghargai perhatianmu terhadap rumahtangga kami…dengan memberikan vcd itu berarti kamu sudah memberitahukanku secara halus.Tapi aku tidak akan mempercayai semua itu begitu saja…kamu tahu siapa aku? Seorang penulis tidak akan mudah tertipu karena sering kali memperlajari sifat dan karakteristik manusia.Kamu bisa saja langsung mengatakannya padaku…tanpa memberikan umpan terlebih dahulu.Katakan saja vcd itu sebagai umpan…dan kamu sudah mendapatkan hasilnya.Aku sudah terlanjur melihat isi vcd itu…dan aku tidak bisa berbohong kalau aku tidak terpengaruh olehnya .”
Wajah Donna masih kelihatan pucat meski Anna berbicara sehalus mungkin.Bahkan kini tangannya juga gemetar menahan rasa takut yang menjelma seperti monster.Takut kalau istri atasannya itu akan mengetahui apa yang ada didalam pikirannya.Takut kalau sesuatu yang buruk akan terjadi terhadapnya karena sudah menyulut api dan berharap tidak akan membakarnya nanti.
“Namanya Sarah…dia memang tinggal diBandung tapi saya tidak tahu alamatnya.Wanita itu selalu menemui Bapak kalau sedang kesana…dan Bapak…”
Ucapannya terhenti.Kali ini tubuh istri majikannya itu yang bergetar bahkan sampai mencengram ujung meja kuat-kuat.
“Maaf bu…saya sudah membuat masalah ini jadi lebih besar…”
“Ada satu lagi…aku ingin kamu menghubungi suamiku sekarang juga.Aku yakin saat ini mereka sedang bersama…”
Deg…jantung Donna seakan terhenti.Api yang disulutnya semakin besar.Dan airmatanya tidak akan membuat api itu lenyap dalam sekejap.
“Maafkan saya bu…saya tidak akan melakukannya bila ibu tidak kuat.Mungkin lain waktu karena kelihatannya ibu sedang tidak enak badan…”
“Aku yang lebih tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.Aku ingin segera menuntaskannya sekarang juga…jadi lekaslah hubungi suamiku.”
Donna tidak tahu harus berbuat apalagi agar api itu tidak ikut menghanguskannya.Tapi semua sudah terlambat dan tidak ada jalan lain untuk bersembunyi dan ikut terbakar didalamnya.Dengan jari yang gemetar menekan satu demi satu nomor telephone milik atasannya.Terdengar suara nada panggil namun bagi Donna suara itu seperti malaikat maut yang sebentar lagi akan mencabut nyawanya.
Wajah Donna semakin pucat pasi begitu mendengar suara dari ujung telephone.Suara yang sudah dikenalnya tapi saat itu tidak sedang ingin didengarnya.Tanpa menunggu lama Anna merebut hape yang dipegang Donna.Membuka telinganya lebar-lebar dan mendengarkan siapa yang mengangkat telephone suaminya.
Kali ini Raut wajah Anna juga ikut berubah pucat.Sangat jelas suara itu bukan suara suaminya tapi suara wanita.Tangannya gemetar dan tak sanggup untuk memegang hape itu lebih lama lagi.Donna tidak ingin menambah masalah lebih jauh lagi dan segera mematikan handphonenya.Agaknya api itu sudah menjadi besar dan tidak ada satupun yang bisa memadamkannya.
“Jadi benar soal wanita itu…?”
Suara Anna terdengar parau.Dia seperti merasa ada biji kedondong yang membuat suaranya menjadi serak.Tapi bukan itu yang membuat tubuhnya menjadi lemas.Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.Mengalahkan sebuah kepercayaan yang dibangun dengan segenap cintanya menjadi hancur berkeping-keping tanpa bisa disatukan lagi.
“Maafkan saya bu…”
Anna bangkit dari kursinya.Mencoba meraih ujung kursi ketika merasa sedikit sempoyongan.Namun sedetik kemudian ada sesuatu yang menyuruhnya untuk segera pergi.Tidak perduli airmata menetes membasahi pipinya.Tidak perduli beberapa pengunjung restoran yang mengenali Anna tengah membicarakan dirinya.Tidak ada yang perlu ditutupi lagi.Dia sudah patah hati.
*****
Anna tidak tahu arah yang ditujunya.Mobilnya terus melaju tanpa arah dan sedikit keluar lajur membuat beberapa pengemudi mobil dibelakangnya berteriak memaki.Anna benar-benar tidak perduli meski saat itu ada sebuah truk besar menggilas mobilnya.Membuat tubuhnya remuk tanpa bisa dikenali.Anna ingin menghilang…berharap sang bayu membawanya kesuatu tempat entah dimana.Kenegri dongeng dimana tidak ada kesedihan…dimana yang ada disana hanya kebahagiaan tanpa setetespun airmata.
Tapi angin membawa Anna kepinggir danau tempat biasanya dia menyepi untuk mendapatkan inspirasi.Kali ini Anna tidak menginginkan apa-apa.Tanpa harapan…tanpa keinginan…hanya hampa.Menumpahkan semua airmata diatas rumput hijau yang bertebaran disekelilingnya.Mungkin saja rumput itu akan menari untuk menghiburnya.Tapi mereka hanya bergoyang ketika angin berhembus.Tanpa suara…hanya sunyi.
Dug….sesuatu menimpa tubuh Anna.Dia segera menoleh dan menemukan sebuah bola kaki berada disampingnya.Bola itu menimpa cukup keras sehingga menimbulkan sedikit nyeri dipinggang Anna.Sejenak bola itu berhasil meredakan tangisan Anna.Membuatnya lupa kalau sedetik yang lalu menginginkan sebuah kematian datang menjemputnya.Tapi hanya benda berbentuk bundar itu yang datang.
“Hei…siapa yang sudah melemparkan bola ini?keluarlah…atau aku akan melemparkan bola ini ketengah danau dan kamu tidak akan bisa mendapatkannya kembali.”
Sesaat tidak ada suara apapun kecuali angina yang berhembus dan menghempaskan rambut panjang Anna.
Sebuah bayangan muncul dari balik pohon.Sebuah bayangan seorang anak laki-laki muncul lengkap dengan seragam sepakbolanya.Rambutnya yang sedikit gondrong menutupi sebagian wajahnya sehingga Anna tidak bisa melihatnya dengan jelas.
“Apa kamu yang sudah melemparkan bola ini ?”
Bayangan itu tidak menjawab.Dia hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.Anna seperti mengenal bayangan itu tapi dia benar-benar sudah menjadi pelupa.Seperti nenek berusia seratus tahun yang bahkan ingatannya jauh lebih besar dari Anna sendiri.
Bayangan anak kecil itu memberi isyarat agar memberikan bola itu padanya.Tanpa sadar Anna bergerak untuk melemparnya.Tapi anak itu melarangnya.Dia kembali memberi isyarat agar Anna menendangnya.Dan Anna menurutinya.
Anna segera bangkit dan meletakan bola itu tepat diujung kakinya.Mengumpulkan semua sisa kekuatannya dan menendang bola itu kuat-kuat.Bola itu melambung tinggi melewati anak laki-laki itu.Dia tersenyum lebar dan memberikan dua jempol untuk Anna.Tentu saja Anna sangat senang sampai tanpa terasa melompat kegirangan.Anak laki-laki itu terus tersenyum.Sesaat kemudian Anna baru sadar kalau dia bukanlah seorang anak laki-laki tapi anak perempuan.Angin berhembus dan menerbangkan sebagian Rambut yang menutupi telinganya.Disana ada sepasang anting yang menggantung dengan cantik.Ternyata dia adalah anak perempuan.
Pandangan Anna tiba-tiba menjadi buram.Begitu juga bayangan anak perempuan tomboy itu.Seperti fathamorgana yang hilang disapu sang bayu.Ikut terbang keangkasa menuju ketempat yang hanya ada didalam mimpi.Anna baru ingat siapa anak perempuan itu.Anak perempuan yang rambutnya selalu dipotong pendek.Anak perempuan yang selalu memiliki semangat hidup yang besar.Anna sangat mengenalnya karena dia adalah…dirinya sendiri.
Pandangan Anna benar-benar gelap.Tubuhnya sesaat melayang diudara sebelum ambruk diatas rumput.Namun sedetik kemudian sepasang tangan kekar meraihnya.Anna mengenali siapa pemilik tangan kekar yang hangat itu.
“Fatur….”
Pemilik tangan kekar itu hanya mendesah.Memeluk tubuh Anna erat seakan enggan untuk melepasnya.Membawanya kesebuah tempat dimana tidak ada airmata.Hanya ada kebahagiaan yang akan selalu mereka dapatkan.
Anna membuka matanya dan melihat hamparan awan putih yang mengisi hampir sepenuhnya dari angkasa.Hari hampir sore sehingga sudah tidak begitu panas.Anna tidak perlu menyipitkan matanya agar bisa melihat awan-awan itu.Beberapa burung terbang kembali kesarangnya yang berada diatas pohon yang tidak jauh dari tempat Anna berbaring. Disana ada anak-anak burung yang menunggu mereka.Burung-burung itu akan memberikan makanan yang disimpan didalam tenggorokannya untuk anak-anaknya.Kemudian angin berhembus sangat menyejukan.Anna merasa sangat betah berada ditempat itu.Tapi kemudian matanya melotot begitu sadar kalau dirinya tengah berbaring dipangkuan Fatur.
“Apa yang terjadi?sedang apa kamu disini?”
Ucap Anna sedikit berteriak.Fatur memajang senyum khasnya.
“Aku rasa kamu harus berterimakasih terlebih dahulu..kalau aku tidak melewati tempat ini mungkin ada oranglain yang akan menemukan dirimu pingsan.Mereka bisa saja melakukan hal buruk terhadapmu…aku tidak ingin membayangkannya karena akan sangat mengerikan.”
“Apa kamu kira aku akan melakukannya? Aku sangat mengenal tempat ini…disini tidak orang yang punya pikiran jahat selain dirimu tentunya…”
Anna bangkit dari duduknya.Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan berniat untuk segera meninggalkan tempat itu.
“Kita harus bicara….”
Fatur sangat tahu Anna tidak akan mudah bicara tentang masalahnya kepada oranglain.Tapi sepertinya Anna sedang mengalami peristiwa yang sangat berat sampai membuat tubuhnya tidak bisa berkompromi lagi.
“Oke…terima kasih.Atas suksesnya acara kemarin…juga dengan apa yang terjadi barusan.Aku rasa aku tidak bisa egois karena kamu selalu ada disaat aku membutuhkan pertolongan.Tapi hanya sampai disini saja…aku harap kita tidak usah bertemu lagi .”
Anna meraih tasnya dan berniat untuk beranjak pergi.Tapi sedetik kemudian Fatur menarik tangannya dan menggenggamnya erat-erat.Wajah Anna memerah dan berusaha melepaskan genggamannya meski hanya membuat tangan Fatur semakin kuat.
“Hentikan…hentikan..”
Fatur tidak berniat untuk merenggangkan tangannya apalagi melepasnya.Membuat Anna semakin terjebak didalam amarah dan melemparkan tasnya kearah Fatur.Namun laki-laki itu tidak bergeming sama sekali seakan sangat tahu apa yang sedang dilakukannya.
Disaat lain Anna seperti sudah berada dititik nadir yang paling ditakutinya.Tubuhnya menjadi lemas dan yang ada hanya isak tangis yang keluar begitu saja.Hanya itu yang ingin dilihat Fatur.Membuat Anna mengeluarkan semua amarahnya meski membuatnya sedikit terluka.Membiarkan Anna tenggelam didalam tangis dan memberikan bahunya untuk tempat menumpahkan semua kesedihannya.
Senja mulai datang dan membuat taman itu sedikit gelap.Bayangan mentari yang tinggal sebagian masih menari diatas danau ketika sang bayu membawa angin malam.Tak lama kemudian lampu taman menyala dan tempat itu kembali terang meski tidak seperti waktu siang.
Cukup lama juga Anna menumpahkan tangisnya dibahu Fatur sebelum akhirnya menyadari kalau airmatanya sudah mongering.Anna sedikit malu karena selalu mencurigai kehadiran Fatur yang selalu dating tiba-tiba.Pada kenyataannya sosok laki-laki itu seperti seorang superman yang selalu datang setiap kali Anna membutuhkan pertolongan.
“Aku tidak akan memaksamu…tapi kita harus bicara suatu saat nanti.Sebelum semua menjadi terlambat dan membuat hidup anak-anakmu berantakan.Aku yakin kamu sangat mencintai mereka…tapi apa yang sedang kamu alami tidak seharusnya membuat mereka juga ikut menderita.”
Anna mengangguk pelan sebelum masuk kedalam mobilnya.Apa yang dikatakan Fatur memang benar.Anna harus berani menceritakan semua masalahnya meski kepada seorang laki-laki yang tidak begitu dikenalnya.Tapi Anna merasa kalau Fatur bisa dipercaya dan tidak akan membocorkan rahasianya kepada orang lain.Ada sesuatu yang membuat mereka dekat dan semakin dekat.Entah sebuah ketidaksengajaan atau memang tuhan sudah mengirimkan seseorang untuk membantu Anna melalui semua masalahnya.
Hatinya memang sudah terlanjur patah tanpa tahu apakah bisa disambung lagi.Kebahagiaannya sedang berada dipersimpangan dan Anna harus tahu jalan yang terbaik untuk dilaluinya.Anna tidak ingin melakukan kesalahan dan memilih jalan yang salah.Tapi dia tidak bisa menolak perhatian laki-laki lain ketika sedang patah hati.Membuat dirinya tetap terjaga dan tidak semakin terpuruk.Membuat hatinya berbunga meski tidak akan pernah bisa mengembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar