Entri Populer

Sabtu, 17 Desember 2011

NOVEL " SECRET LOVER"

Secret lover # 12
Penculikan


Ada yang kembali
Ada juga yang hilang
Tidak ada yang menyenangkan
Karena semuanya hanya mendatangkan kesedihan



                         Perjalanan menuju rumah Anna seperti lorong menuju ujung waktu.Mencari setitik cahaya yang bersembunyi didalam kegelapan.Kembalinya ingatan tentang masalalu tidak membuat Anna tenang.Bahkan dirinya merasa seperti dikejar oleh sesuatu yang tak tampak oleh mata.Terkadang berpikir kalau Fatur tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja.Mengira kalau dia membuntutinya dibelakang.Anna menoleh.Tidak puas melihat kaca spion mobil.Tapi jalan dibelakangnya sepi.
                        Digarasi sudah terparkir mobil yang dipakai Reza.Anna menahan napas berusaha mengumpulkan semua kekuatan agar bisa mengendalikan hatinya.Berusaha mengubur amarah yang sempat menjerumuskan dirinya kedalam jurang paling dalam.Membuang kebencian dan menggantinya dengan kearifan yang baru saja dimilikinya.
                        Reza masih duduk dikursi meja makan.Tidak berusaha untuk bangkit ketika mendengar suara mobil Anna.Berusaha untuk tetap tenang berharap tidak melakukan kesalahan lagi.Bayangan Anna muncul dari balik pintu.Tidak bergeming juga ketika Anna berdiri tegak dihadapannya.
                        “Aku akan mengambil baju sekolah anak-anak…untuk sementara kami tinggal dirumah mama.Aku harap kamu jangan menanyakan apapun karena keputusanku sudah bulat!”
                        Bayangan Anna berlalu.Tiba-tiba hati Reza terasa sangat kosong.Merasa kehilangan sesuatu.Sesuatu yang pernah dilupakan beberapa saat yang lalu.Reza bangkit dan membiarkan kopi yang baru saja dibuatnya membeku.
                        Anna merasa aneh dengan sikap diam Reza.Sangat berbeda dengan saat terakhir mereka bertemu.Ternyata bukan hanya dirinya yang berubah,Reza juga melakukannya.
                        “Laki-laki itu…apa kamu mencintainya?”
                        Anna hampir saja berjingkat ketika mendengar suara Reza.Ternyata dia sudah berada disana untuk beberapa saat.Memperhatikan Anna tanpa mengeluarkan suara bahkan sambil menahan napasnya.
                        Anna berusaha untuk tenang meski hatinya dipenuhi berbagai rasa.
                        “ Aku baru tahu kalau dia adalah bagian dari masalaluku.Cepat atau lambat dia juga akan muncul didalam hidupku.”
                        Reza mengerutkan keningnya.Jawaban Anna cukup penting meski tidak bisa memenuhi keingintahuan tentang hatinya.Ada sesuatu yang aneh dari kalimat yang diucapkan istrinya.Bahkan Anna tidak menyebutkan nama yang dimaksud Reza.
                        “Apakah dulu dia sangat dekat..apakah kalian sepasang kekasih?”
                        Anna terdiam.Sebenarnya Anna tidak ingin mengingat tentang Fatur.Apalagi setelah peristiwa semalam.Tapi hal itu tidak akan diceritakan kepada Reza yang mungkin akan menertawainya.
                        “Aku tidak ingin membicarakannya… saat ini aku hanya ingin ketenangan.”
                        Untuk beberapa saat keheningan hadir diantara mereka.Menjadi jembatan yang memisahkan dua hati yang saat ini tidak bisa menyatu.Tapi Reza masih ada ditempatnya semula.Membuat Anna menjadi sedikit risih, berharap kalau angin membawanya pergi.Sementara anginpun enggan menyusup dan membiarkan hening menjadi raja.
                        “Permisi…aku harus pergi.”
                        Sebuah ucapan yang sangat formal.Anna memang sudah merasa sangat asing berada didekat suaminya.Tapi Reza hanya diam saja bahkan menarik lengan Anna meski tak disengaja .
                        “Kita harus bicara…”
                        Anna menarik napas panjang.Menyesal dengan apapun yang pernah terjadi diantara mereka.Bukan karena sempat merasakan kebahagiaan tapi karena harus kehilangan semuanya.Hatinya benar-benar hancur.Tak kuat menahan beban yang sebentar lagi akan meremukan tubuhnya.Sebutir airmata menetes jatuh tepat diujung kaki Anna.Begitu juga beberapa tetes sesudahnya.
                        Reza ingin sekali memeluk tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukan.Membiarkan Anna mengeluarkan semua kemarahan terhadapnya.Meleburnya kedalam kubangan cinta yang mungkin saja masih tersisa.
                        “Minumlah….”
                        Berikutnya Reza sudah menyodorkan kopi yang sengaja dibuat untuk Anna.Dulu Reza sempat membenci aromanya tapi kini seakan tidak asing lagi.
                        “Setahuk kamu tidak suka minum kopi…”
                        Anna melirik segelas kopi yang ada diatas meja makan.Dia sangat tahu kalau Reza tidak suka minum kopi.Sedangkan bagi Anna, kopi adalah sahabat setianya.Yang selalu menemaninya ketika kepalanya dipenuhi inspirasi.
                        “ Entahlah…terakhir ini aku mulai menyukainya.Apalagi kalau didalam rumah hanya ada kesunyian dan aku merasa kesepian.”
                        Anna terdiam.Baru kali ini Reza mengutarakan perasaannya.Terasa mendalam dengan raut muka yang menampakan kesedihan.Terlambat.Anna tidak merasakan apapun ketika melihatnya.Mungkin sedikit kasihan.
                        “Apa kamu sudah yakin untuk keluar dari rumah kita? Bagaimana dengan anak-anak.?
                        Cepat atau lambat Reza pasti akan menyinggung soal keputusannya untuk pergi.Hanya saja mungkin kali ini Anna bisa menjawab dengan hati yang lebih tenang.Anna menyeruput kopi yang masih sedikit panas.Anna tidak ingin menyia-nyiakan rasa nikmat ketika meminumnya pertama kali.Karena sesudahnya hanya biasa saja.
                        “Kita sudah sama-sama dewasa…aku sendiri berharap bisa menghadapi masalah kita dengan membuang sifat kekanakan.Mungkin suatu kesalahan karena mencoba pindah kelain hati karena dasar Frustasi.Tapi itulah kenyataanya, disamping kisah masalalu yang perlahan kembali kedalam ingatanku..”
                        Anna mendongak.Mendapati tatapan suaminya yang menyorot tajam kearahnya.Anna tidak perduli.Rasa takut itu sudah hilang.
                        “Kita hanya perlu jujur… Kenyataannya cinta itu sudah lenyap tak tersisa.Membuat pernikahan kita seperti sayur tanpa garam.Aku sudah berhenti mencoba untuk mencari jalan keluar.Aku benar-benar sudah menyerah…maafkan aku.”
                        Sesaat ruangan itu kembali sunyi.Kesunyian yang sudah mengisi rumah itu semenjak lama.Anna kembali menyeruput kopinya.Kali ini Anna tidak menyisakan sama sekali.Menatap cangkir yang sudah kosong.Berharap ada mukzizat yang membuat cangkit itu kembali terisi penuh.                                              
                        “Setidaknya …biarkan aku mencobanya…”
                        Reza seperti mendapatkan kekuatan begitu menghabiskan kopinya.Berharap Anna memberikan kesempatan untuk menebus semua dosa-dosanya.Anna hanya bisa menelan air ludah.Merasakan kekeringan dibatang tenggorokannya.Kalimat yang baru saja diucapkan Reza sudah tidak terdengar indah.Meskipun dulu Anna selalu mengharapkannya.
                        Dering telephone memecah kesunyian.Reza agak kesal karena menunggu reaksi Anna atas ucapannya.Sikap Anna hanya biasa saja.Seakan sudah menebak siapa yang sudah membuat telephone itu berdering.
                        Reza akhirnya bangkit dari kursi.Dengan langkah berat mendekati telephon disudut ruangan.Wajahnya berubah ketika mendengar suara diujung telephone.Menatap Anna dengan pandangan aneh seperti mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.
                        “Ada apa ?” tanya Anna menyadari sikap Reza pasti ada penyebabnya.
                        “Dari adikmu…. Raka menghilang !”
                        Sebuat petir berhasil menyusup diam-diam.Membuat segenap jiwa Anna hangus terbakar meski hatinya masih utuh.Diapun segera merebut telephone dari genggaman Reza.Memastikan kalau yang dikatakan Reza bukan sebuah kebohongan.
                        “ Ada apa? Apa yang terjadi dengan Raka?”
                        Terdengar suara tangis dari sebrang.Tangis adiknya juga tangis keisya putrinya.
                        “Maafkan aku ka… barusan Raka ada disini.Tidak lebih dari lima menit dia sudah hilang…” ucap Rima disela tangisnya.
                        “Tunggulah..aku akan segera kesana.”
                        Anna segera menutup gagang telephone dan berlari keluar.Melupakan beberapa pak pakaian kedua anaknya yang sudah disiapkan.Reza tidak mau diam begitu saja.Berlari menyusul istrinya.Kali ini gap diantara mereka sesaat sirna.Putra mereka menjadi taruhannya.
                        Reza melihat tangan Anna bergetar ketika memegang kemudi mobilnya.Tidak ingin sesuatu yang buruk juga terjadi kepadanya.Anna memang wanita yang tegar tapi bila berhubungan dengan anak-anaknya dia berubah menjadi sangat lemah.
                        “Biarkan aku yang menyetir mobilnya…”
                        Anna hanya terdiam.Bukan hanya tangannya yang gemetaran.Hatinya juga galau dan tidak bisa tenang.Mungkin lebih baik kalau Reza yang menyetir mobil.Tapi ada sebagian harga diri yang membuatnya angkuh.
                        “Anna…Raka juga anakku… ijinkan aku yang membawanya!”
                        Ada ketegasan dari ucapan Reza.Sedetik kemudian Anna langsung pindah kekursi disebelahnya.Membiarkan Reza menjadi seorang pemimpin.
                        Perjalanan itu seperti melalu tebing yang terjal tanpa tahu jalan didepannya.Berharap tidak menemukan sebongkah batu yang bisa menenggelamkan mereka kedasar jurang yang paling dalam.Tapi Reza kelihatan lebih tenang.Membuatnya yakin bisa melewati jalan itu tanpaSementara airmata tak berhenti menetes dikedua pipi Anna.Tidak mengijinkannya untuk menarik napas meski hanya satu hela.Membuat dadanya menjadi sesak.Kekuatannya hilang.Kembali menjadi wanita lemah tanpa kemampuan apapun untuk bangkit.
                        “Astagfirullah… bukan ini yang hamba minta ya Allah.Lindungilah nak hamba ya Allah…” ucap Anna disela tangisnya.
                        Reza menoleh.Mendengar permohonan istrinya meski hanya berbisik.Menyadarkannya kepada yang satu.Tuhan yang selama ini dilupakannya.Tenggelam dalam nikmatnya kehidupan duniawi.Terjebak dalah indahnya cinta yang hanya fathamorgana.Kenyataannya cinta sejati itu hanya kepada sang pencipta dan kepada keluarganya.
                        Didalam Mall sudah terlihat kerumunan.Dua orang polisi dan beberapa security mall ada diantara mereka.Anna segera berlari ketika melihat Rima yang menggendong keisya.Putri kecil itu langsung histeris dan memeluk mamanya erat.Rima sendiri tidak bisa berkata apapun kecuali wajahnya yang terlihat pucat.
                        “ Bagaimana Raka? Apa sudah ketemu?”tanya Anna sambil menenangkan putrinya.
                        Rima hanya menggeleng.Merasa sangat bersalah padahal sudah berjanji untuk menjaga kedua keponakannya.
                        “Maafkan aku ka…tadi sempat minta es cream tapi Keisya sedang makan.Aku bilang tunggu sebentar tapi….”
                        Anna baru sadar kalau mereka berada ditempat yang sama dengan peluncuran bukunya tempo hari.Raka mengenal tempat itu meski baru beberapakali kesana.Bahkan sebelumnya sempat menikmati es cream yang diberikan Fatur.
                        “Tidak…bukan dia!”
                        Anna berteriak kencang ketika menyadari suatu hal.
                        “Ada apa? Apa kamu tahu sesuatu? Katakanlah?”
                        Reza mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan istrinya.Meski Anna hanya diam meski wajahnya semakin pucat.
                        “Carilah diconter es cream yang ada diujung lorong.Kalau tidak ada juga, dia pasti sudah membawanya!”
                        Reza tidak tahu apa yang dimaksud Anna.Tapi dia tidak mau membuang waktu dan menuruti perkataannya.Berlari kearah yang ditunjuk Anna.Beberapa polisi dan security juga mengikutinya.
                        Anna menunggu dengan cemas.Memeluk putrinya yang langsung tertidur ketika sudah berada didalam pelukannya.Anna sudah tahu siapa yang ada dibalik menghilangnya Raka.Tapi masih berharap kalau yang dikiranya salah.Raka hanya menginginkan es cream kesukaannya.Sebentar lagi putra kesayangannya itu juga akan kembali.Tapi waktu berjalan sangat lambat.Membuat kecemasan semakin mewabah.Menjadi virus mematikan yang bisa membuat orang menjadi gila.Anna memang bisa seperti itu.Kalau putranya benar-benar hilang.
                        “Bagaimana? Raka ada ?”
                        Anna sudah tahu kalau Raka belum ditemukan.Reza kembali dengan langkah gontai.Membuat Anna semakin yakin dengan kecurigaannya.
                        “Ada sesuatu yang belum aku ceritakan.Malam itu aku sempat bertemu dengan Fatur dan pergi kerumahnya.Aku sedang kalut..tidak tahu harus pergi kemana lagi.Kepalaku sangat sakit dan hampir pingsan.”
                        Reza baru tahu nama laki-laki itu adalah Fatur.Tapi ada sesuatu yang lain dari gaya bicara Anna.Matanya tidak berbinar.Tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta kepada orang yang sedang dibicarakannya.
                        “Dia seorang psikopat… dia sudah mengambil gambarku diam-diam.Menempelnya didinding kamar.Aku melihatnya…sangat menakutkan.Dia berubah menjadi ambisius karena aku pernah meninggalkannya.Aku takut dia membawa Raka..”
                        Anna tidak mampu menahan tangisnya lagi.Tidak perduli kalau keisya terjaga karena mendengar suaranya.Reza memeluk istrinya erat.Kisah yang dialami Anna sangat tragis.Tidak seperti yang pernah sengaja dilakukannya.Terjebak dalam cinta palsu.         
*****
                        Malam itu juga Anna pergi kerumah Fatur.Beberapa polisi bersamanya.Anna tidak akan memaafkan Fatur kalau putranya benar-benar bersamanya.Tidak perduli kalau dia adalah cinta yang ada dimasalalu Anna.Apa yang dilakukan Fatur sangat tidak masuk akal.Apakah mungkin cinta bisa membuat orang menjadi gila.Anna tidak tidak habis pikir.Selama ini tidak pernah menyangka obsesi akan cinta bisa membuat seseorang menjadi psikopat.
                        Reza masih diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.Serius mengemudikan mobil tanpa berusaha untuk menanyakan lebih lanjut perihal Fatur.Anna menangkap bayangan Reza yang terpantul dikaca mobil.Menahan napas berharap kalo masih ada sesuatu yang menggelitik hatinya.Sesuatu yang pernah dirasakan dulu.Tapi yang ada hanya kecemasan.Keadaan Raka putranya lebih menguasai pikirannya.
                        Mereka melewati jalan yang sama ketika pertama dan terakhir Anna kesana.Jalan gelap dan lengang.Masih ada sebuah mobil angkutan umum yang melaju tepat didepan Anna.Teringat bagaimana rasanya berada ditengah peluh para pedagang.Meski sedikit terobati dengan wangi sayuran yang baru saja dipetik.Teringat tatapan aneh mereka begitu melihat kaki Anna yang dipenuhi Lumpur.Saat itu Anna memang sengaja melepas sepatunya agar bisa lebih cepat berlari.
                        Hanya saja yang sangat disayangkan Anna harus kembali kesana karena alasan yang lebih mengerikan.Anna yakin Fatur sudah menculik Raka.Mungkin ingin melampiaskan semua dendam karena Anna pernah meninggalkannya.Anna menunggu dengan harap-harap cemas.Mengharapkan kalau perkiraannya salah.Cemas kalau Fatur benar-benar menculik putranya.
                        Mereka sampai dijalan kecil menuju rumah Fatur.Masih becek apalagi semalam diguyur hujan.Ban mobil setara sedan pasti sedikit tergelincir.Reza kelihatan kesulitan mengemudikan mobilnya.Meski saat ini pikirannya sangat focus untuk menemukan putranya.
                        Mobil jeep Fatur terparkir didepan rumahnya.Anna berharap Fatur tidak melakukan hal buruk terhadap putranya.Merubah pikiran akan memaafkannya bila keadaan Raka baik-baik saja.Meski disana ada polisi tapi Anna tidak akan mempersulitnya.
                        Tidak lama begitu mesin mobil berhenti, seseorang muncul dari balik pintu.Anna sangat mengenal bayangan itu.Tanpa menunggu lama Anna berlari menuju Fatur dan Reza menyusulnya.
                        “Dimana Raka? Dimana anakku?”
                        Teriaknya memecah kesunyian.Fatur kelihatan kebingungan melihat sikap Anna yang histeris.Lebih bingung lagi ketika melihat suami Anna dan beberapa orang polisi ada dihadapannya.
                        Reza tidak menunggu lama untuk melayangkan sebuah tinju kewajah Fatur.Anna kelihatan sangat terkejut.Meski tidak melarangnya sama sekali.
                        “Aku tahu kamu yang membawa anakku…sekarang kembalikan Raka!”
                        Fatur masih diam.Tidak tahu harus berkata apa karena tidak melakukan hal yang dituduhkan Anna padanya.
                        “Pak polisi..periksa saja kedalam rumahnya.Disana banyak foto saya dan anak-anak saya.Dia sudah lama mengintai kami.Saya yakin dia juga yang terlah menculik anak kami ,” ucap Anna ketika teringat foto-foto yang dilihat dikamar Fatur.
                        Dua orang polisi masuk kedalam rumah.Fatur tidak bisa melarangnya.Yang dikatakan Anna soal foto-foto itu memang masih ada.Fatur tidak menyembunyikan karena tidak berniat buruk pada Anna dan keluarganya.
                        “Tidak…kamu salah sangka.Aku tidak pernah berniat buruk padamu.Anna…aku sangat mencintaimu.Aku tidak akan tega menyakitimu dan anak-anakmu!” teriak Fatur berusaha meyakinkan Anna.
                        Anna tidak perduli dan tidak ingin mendengar pa yang dikatakan Fatur barusan.Dua orang polisi yang masuk kedalam sudah kelihatan lagi.Konsentrasi Anna terganggu karena Raka tidak ada bersama mereka.
                        “Kami tidak menemukan putra ibu…tapi soal foto itu benar.Sebaiknya kamu ikut kami kekantor sekarang juga!”
                        Seorang polisi mengeluarkan borgol dan memasukannya ketangan Fatur.Dia hanya diam saja.Mungkin sudah tahu kalau pembelaannya hanya sia-sia.Fatur hanya ingin membuktikan kalau tuduhan Anna tidak benar.Menyesal karena akhir cerita tidaklah seperti yang dibayangkan.Kenyataannya saat ini Anna berada dalam situasi yang sangat sulit.Kehilangan putra yang sangat dikasihinya.Fatur hanya berharap polisi akan segera melepasnya.Membantu Anna untuk menemukan putranya karena dia sendiri tidak akan mampu melakukan hal yang akan menyakiti wanita yang sangat dicintainya itu.
                        Anna diam terpaku ketika mobil polisi yang membawa fatur menghilang diantara kerimbunan pohon.Hatinya belum lagi tenang karena sosok Raka belum ditemukan.Tapi Anna yakin polisi akan menginterogasi Fatur dengan lebih leluasa dikantor polisi.Berharap kalau kabar putranya segera Anna terima.
                        Reza tidak ada disampingnya begitu Anna menoleh.Seorang polisi masih menghubungi teman-temannya  sementara polisi yang lain mungkin sedang berada didalam rumah Fatur.Reza bisa saja bersama polisi itu.Mencari pentunjuk yang tidak dilihat polisi sebelumnya.
                        Akhirnya Anna menemukan suaminya.Berdiri tegak didepan foto-foto yang terpampang didinding kamar tidur Fatur.Memandanginya tanpa berkedip sama sekali.Foto-foto itu tersusun rapi seakan menandakan kalau pemiliknya tidak punya niat buruk sedikitpun.
                        “Aku tidak yakin kalau laki-laki yang bernama Fatur itu yang menculik Raka.Kelihatannya dia sangat mencintaimu… bahkan semua foto-fotomu dipasang dengan sangat rapi.Bukan seperti seorang psikopat.”
                        Anna memang setuju dengan komentar suaminya.Tapi orang baik-baik tidak akan mengintai seseorang tanpa tujuan apapun.
                        “ Dia sudah tahu siapa aku sebelumnya tapi tidak mengatakan apapun… Sepertinya sudah mengatur rencana dengan sangat rapi.Aku memang sudah mencurigainya dari semenjak awal… sampai Raka menghilang.Semuanya memang salahku..”
                        Kabut mendung kembali menggerayut dikelopak mata Anna.Menghasilkan airmata yang menetes seperti airbah.Reza tidak tega melihatnya.Memeluk istrinya itu erat berharap bisa mengubah suasana hatinya.Pelukan yang sudah lama tidak diberikan namun sayang kini rasanya menjadi hambar.
                        Raka belum ditemukan juga.Polisi bahkan tidak menemukan bukti kalau Fatur adalah penculiknya.Anna semakin tidak tenang.Kehilangan waktu percuma karena ditempat lain mungkin putranya itu sedang menderita.
                        Tapi tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali menunggu.Membuat detik yang berlalu seperti dineraka.Tidak ada seorangpun yang sanggup melewatinya.Tidak juga anak laki-laki yang terkurung disebuah ruangan sempit.Tangan dan kakinya terikat kencang.Begitu juga mulutnya yang disumpal kain agar tidak bersuara.Hanya matanya saja yang terbelalak menyiratkan  ketakutan.Raka ada disuatu tempat.Sendirian.