Entri Populer

Minggu, 29 Mei 2011

Secret lover # 8
Jatuh cinta


Mentari kembali bersinar
Kuncup bunga pun mekar dan menebarkan aroma wangi
Membuat setiap mata yang memandangnya berbinar
Setiap hati akan dipenuhi dengan kelopak bunga
Membawa kebahagiaan setiap detiknya
Begitu indah…
Membuat tidak seorangpun mampu menolak keindahannya


                        Anna terbangun dengan sebuah senyuman diwajahnya.Pagi itu demikian indah dan hati Anna seperti sedang berbunga-bunga.Sesuatu yang pernah dirasakannya bertahun-tahun yang lalu.Sesuatu yang hampir terlupakan dan berharap tidak akan pernah pergi lagi dari hatinya.
                        Semalam sebuah sms membuat tidurnya sangat nyenyak.Kata-katanya tidak terlalu panjang.Hanya selamat malam dan semoga tidur nyenyak.Tidak ada yang istimewa dan datang bukan juga dari orang yang luar biasa.Entah mengapa Anna merasa melambung begitu melihatnya.Perhatian dari seorang laki-laki yang bukan suaminya.Tapi sosok itu mampu menenangkan hati Anna sehingga melupakan masalah yang sedang dihadapinya.
                        Pagi tadi ketika Anna membuka mata, SMS itu datang lagi.Selamat pagi dan semoga harimu cerah.Biasa saja, kata-kata yang sudah biasa diucapkan orang.Tapi kali ini juga membuat Anna tersenyum.Anna tidak perduli bila yang dirasakannya suatu kesalahan.Setidaknya hal itu bisa membangkitkan gairah hidupnya.
                        Anna menghirup udara segar dari laut yang sudah lama tidak dirasakannya.Dia sendiri hampir lupa kapan terakhir berada disana.Merasakan pasir yang menggelitik kakinya ketika sang ombak membawanya menepi.Merasakan wajahnya sedikit hangat ketika sang mentari tidak membiarkannya sendirian.Anna merasa tidak asing dengan suasana seperti itu.Mungkin dulu dia pernah memuja laut namun waktu tidak membiarkan dirinya mendengar panggilannya sedetikpun.
                        Tapi sekarang Anna sudah berada disana.Membiarkan sang bayu mempermainkan tubuhnya yang sesekali basah tertimpa ombak yang mengajaknya untuk bermain.
                        “Hai….”
                        Fatur muncul dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.Tidak sampai setengah jam dari terakhir mereka bicara ditelephon.Kini laki-laki itu muncul sambil membawa senyumnya yang mengembang.Anna menyambut lambaian itu.Mungkin Fatur benar-benar seorang penolong dengan sayap yang tidak terlihat.Membuatnya bisa pergi kemanapun dalam waktu singkat.Anna tersenyum dengan pikirannya sendiri.Sifat kekanakannya muncul.Membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada didalam dunia nyata.
                        “Aku tahu kamu pasti menungguku khan…aku lihat kamu tidak berhenti tersenyum begitu melihatku…”
                        Seperti biasa.Fatur dengan kecongkakannya.
                        “Aku tidak seperti itu…jangan gee r dulu…”
                        “Aku membawakanmu kopi…tidak hangat,setidaknya bisa menemani kita…”
                        “Aku tidak menyuruhmu kesini…”
                        Fatur hanya tersenyum dengan sikap Anna yang selalu jual mahal.Mungkin itulah sebabnya dia berada disana.Menghilangkan rasa penasaran yang membuatnya tidak bisa tidur.
                        “Bagaimana dengan cerita novelmu yang baru…apa sudah dapat temanya?”
                        Anna hanya diam.Masih terus menyusuri sisi pantai dan tidak berniat untuk berhenti.Entah apa yang sedang berkecamuk didalam pikirannya.Wanita tegar itu hanya merasakannya saja.Membuat Fatur sedikit terpengaruh dengan sikap tidak perduli Anna.Membuat darahnya berdesir dan bisa saja melakukan sesuatu yang bodoh.
                        “Ayolah..kita kebawah pohon kelapa yang lumayan rindang itu…”
                        Fatur menarik tangan Anna tanpa menunggu persetujuannya.Anna sedikit tersentak tanpa bisa menolak keinginan Fatur.
                        “Panas semakin terik..apa tidak mengganggumu sama sekali?”
                        “Aku selalu bersahabat dengan mentari dan tidak pernah merasa terganggu karenanya.Mentarilah yang membuatku terus hidup…jadi tinggallah kalau kamu tidak menyukainya.”
                        Anna kembali melangkah tanpa berharap Fatur akan mengikutinya.
                        “Jangan pergi…jangan tinggalkan aku…”
                        Langkah Anna terhenti.Suara itu…bayangan itu.Pandangan Anna mulai kabur lagi.”Jangan pergi…jangan tinggalkan aku..”  Anna pernah mendengar seseorang mengatakan hal itu padanya.Tubuhnya mulai bergetar dan perlahan berbalik arah.Berhadapan dengan bayangan yang selama ini mengganggunya.Bayangan laki-laki yang pernah tinggal dimasa lalunya.Sedetik kemudian bayangan itu bersinar terang.Disana hanya sosok Fatur yang berdiri dengan penuh cemas.Karena beberapa saat kemudian tubuh Anna limbung dan terjatuh diatas pasir.Samar Anna melihat bayangan Fatur berlari sambil memanggil namanya.Kemudian semua menjadi gelap.
                        “ Kamu harus membicarakannya Anna…semua hanya membuatmu semakin menderita.Jangan biarkan masalah yang sedang kamu hadapi menyiksa batin dan jiwamu.Bicaralah…aku akan selalu disini .”
                        Anna siuman dan menemukan Fatur masih ada disisinya.Mungkin yang dikatakan Fatur benar.Tapi Anna sangat malu menceritakan tentang masalah yang ada didalam rumahtangganya.Masalah dengan suaminya yang perlahan melupakan cintanya yang dulu begitu besar.
                        “Yang aku tulis dinovel pertamaku dulu memang cerita nyata.Aku memang kehilangan sebagian masalaluku.Aku tidak mengerti mengapa semua itu terjadi padaku.Aku tidak pernah mengalami kecelakaan yang bisa membuat amnesia.Aku tidak ingat sama sekali awal pertama ketika aku kehilangan ingatan itu.Aku hanya bangun dari tidur dan tidak mengingatnya sama sekali.Seperti ada penghapus waktu yang membuatnya hilang tanpa jejak sedikitpun…”
                        Anna mendesah pelan.Menghirup minuman yang diberikan Fatur dan membuat tubuhnya sedikit segar.
                        “Masalalu itu…mungkin bisa kamu dapatkan lagi bila kembali kekota dimana kamu tinggal sebelumnya.Maksudku…masalalu itu pasti ada disana.Ditempat-tempat yang pernah kamu singgahi…dengan orang-orang yang pernah ada didalamnya.Aku akan membantumu untuk menemukan mereka…kalau kamu ijinkan tentunya.”
                        Anna mendongak dan menatap wajah Fatur lekat.Berharap menemukan kebenaran dari kata-kata yang diucapkannya.Anna memang tidak perlu ragu meski terkadang merasa pernah mengenal sosok Fatur sebelumnya.Mungkin saja dia memang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
                        “Terima kasih…aku sangat menghargai bantuanmu.Hanya saja sekarang hal itu malah menggangguku…aku bahkan berharap tidak akan mengingat masalalu itu.”
                        “Tidak…jangan lakukan itu.Maksudku…hal itu tidak akan membuatnya menjadi seimbang.Tuhan menciptakan siang dan malam…menciptakan mentari dan bulan untuk menemani mereka.Begitu juga dengan manusia…selalu ada masalalu dan masa depan didalam takdir mereka.Aku malah berharap bisa kembali kemasalalu itu agar bisa memperbaiki masa depan.Berharap bisa berada disaat kamu kehilangan masalalu itu dan membuatnya tetap ada….”
                        Anna tercengang mendengar ucapan Fatur yang sangat dalam sekali.Mereka belum lama saling mengenal tapi apa yang dikatakan Fatur seakan mereka sudah berteman sangat lama.
                        “Baiklah…kalau memang hal itu bisa kamu lakukan.Aku akan menunggu apa yang diucapkanmu itu menjadi sebuah kenyataan…”
                        “Meski pada akhirnya mungkin saja kalau kita bisa menjadi sepasang kekasih…”
                        Kali ini Anna terdiam.Fatur masih sama seriusnya dengan sebelumnya.Dia kelihatan tidak sedang bercanda.Hal itu membuat Anna kehilangan kata-kata.
                        “Sudahlah…aku hanya bercanda.Akhirnya kamu kena juga…aku sangat senang sekali bisa mengerjai seorang penulis yang selalu bisa membaca pikiran orang.Sebaiknya kita makan siang…semua ini membuatku jadi kelaparan .”
                        Anna masih terpaku mendengar ucapan Fatur yang ternyata sedang mengerjainya.Sedikit kesal karena laki-laki itu sudah mempermainkan pikirannya dan sesaat Anna benar-benar terlena.
                        “Ayolah…atau aku akan menggendongmu…”
                        Anna segera beranjak dari tempat duduknya dan sedikit berlari menjauhi Fatur.Anna memang sedang kesal tapi tidak bisa berbohong ada sesuatu yang menggelitik dihatinya.Merasa seperti anak tujuh belas tahun dengan pacar pertamanya.Terkadang sifat manjanya terlihat dan Anna tidak mampu menyembunyikannya.
                        “Ayolah…berikan sedikit petunjuk tentang novel barumu.Satu kalimat juga tidak apa-apa…”
                        Fatur memang sangat antusias dengan novel baru Anna.Bahkan ketika sedang menyantap makanan pikirannya tidak pernah jauh darinya.Anna tak mampu menahan senyumnya.Bukan karena keinginan yang diutarakan Fatur tapi karena ada makanan yang tersisa disudut bibirnya.
                        “Ada apa?apa pertanyaanku salah…?”
                        Anna hanya menggeleng pelan seraya mengambil kertas tissue yang ada didepannya.Fatur baru mengerti ketika Anna menyodorkan tissue itu padanya.Tapi dia hanya mengangkat tangannya seakan memberitahukan kalau tangannya sedang sibuk.
                        “Jangan memaksaku…aku bukan pacarmu jadi lakukan saja sendiri…”
                        “Jadi kita harus pacaran dulu agar kamu mau menghapus sisa makanan dimulutku…”
                        Anna melotot mendengar perkataan Fatur yang sangat tidak pantas.Apalagi laki-laki itu sangat tahu kalau Anna sudah menikah tapi selalu memperlakukannya seperti anak belasan tahun.
                        Anak belasan tahun…perasaan itu datang lagi.Samar…Anna pernah merasakan perlakuan seperti itu.Perasaan tenang karena ada seseorang yang selalu memperhatikannya setiap waktu.
                        “Maafkan aku…”
                        Fatur merasa bersalah ketika melihat raut wajah Anna yang berubah.Apalagi ketika Anna menutup wajahnya dengan telapak tangan seakan ada sesuatu yang sangat mengganggunya.
                        “bayangan itu datang lagi…sepertinya semakin lama semakin intens dan mulai menggangguku.Kepalaku jadi pusing…”
                        “Tunggu aku…”
                        Anna mendongak setelah sadar kalau bayangan Fatur sudah menghilang.Tapi sedetik kemudian muncul lagi dengan membawa sesuatu ditangannya.
                        “Minumlah…obat ini akan meringankan sakit kepalamu.”
                        Anna hanya diam terpaku melihat Fatur menyodorkan obat itu kepadanya.Tapi ada tanda tanya besar yang merasuk kedalam pikiran Anna.Perhatian laki-laki itu sangat besar bahkan tidak sebanding dengan perhatian suaminya sendiri.
                        “Terima kasih…atas perhatianmu.Aku sangat menghargainya…”
                        Fatur hanya tersenyum seraya kembali duduk dikursinya.Kembali menyantap makanannya meski Anna tahu kalau laki-laki itu berusaha menutupi kecemasannya.
                        “Novel baruku…menceritakan tentang cinta sejati yang tidak pernah mati.Meski pada akhirnya menyerah ketika sang maut menjemputnya.Penuh airmata…tapi aku ingin menuliskan perasaan manusia yang selalu mengatasnamakan cinta meski badai menerjang hidup mereka.Berbeda dengan novelku yang lain,yang selalu mengutamakan ketegaran.Kali ini hanya ada kepasrahan pada takdir yang dituliskan tuhan…”
                        Fatur mendongak.Melihat mata Anna berkaca-kaca ketika menceritakan tentang novel barunya.Seakan Anna sedang menceritakan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
                        “ Apa tidak mempergaruhi emosi pembaca novelmu nanti…selama ini mereka, termasuk aku sangat terpesona dengan tulisanmu yang selalu memotivasi setiap manusia untuk bangkit dan melawan takdirnya.Memberi semangat untuk melangkah tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi nanti…Aku sangat kecewa bila novel itu diteruskan tanpa ada semangat hidup didalamnya .”
                        Anna tertegun mendengar penjelasan Fatur.Tanpa semangat hidup..mungkin seperti itulah Anna saat ini.Terpuruk dan tidak berniat untuk mencari pegangan agar bisa bangkit kembali.
                        “Mungkin aku memang sudah berubah…setiap jiwa pasti akan goncang bila terlalu banyak beban yang ditanggungnya.Mungkin juga selama ini aku sudah salah…tidak apa-apa kalau menyerah pada takdir.Tuhan tidak memberikan kebahagiaan kepada setiap jiwa yang diciptakannya.Sebagian mereka pasti akan mengalami kesedihan dan kehilangan.Dunia masih terus berputar meski sebagian manusia dibanjiri dengan airmata….”
                        Anna mendesah diakhir kalimatnya.Fatur tidak ingin memaksanya lagi untuk terlalu keras berpikir.Kehilangan sebagian masalalu adalah sesuatu yang sudah sangat berat apalagi bila harus kehilangan masa depannya.
                        “Baiklah…kalau kamu berpikiran seperti itu.Seperti juga dengan hujan diluar sana…tidak ada yang ditakuti darinya.Jadi bagaimana kalau kita keluar dan menyambutnya…”
                        Anna menoleh keluar jendela dan baru sadar kalau diluar sedang hujan.Tapi tidak berarti Anna akan mengikuti kemauan Fatur.Pasti banyak orang yang memperhatikan mereka dan akhirnya pasti ada seseorang yang mengambil gambar.Gambar itu akan terbit dimajalah pagi-pagi sekali dan semua orang pasti goncang.
                        Tapi Fatur tidak akan diam saja dan menyeret Anna untuk keluar ruangan.Anna tidak mengerti mengapa begitu lemah bila sedang berada dihadapannya.Kekerasan hatinya seakan luntur berganti dengan sifat kekanakan yang ingin selalu dimanja.Mungkin saat ini Anna memang sedang haus kasih sayang.Sesuatu yang seharusnya didapat dari Reza, suaminya.
                        Fatur mengajak Anna berlarian mengitari taman dan membiarkan badannya kebasahan.Sementara Anna juga terlarut didalamnya dan membiarkan Fatur terus menggenggam jemari tangannya.Mereka berjingkrakan seperti dua anak kecil yang tidak pernah merasakan air hujan.Anna tersenyum lebar dan sejenak melupakan siapa dirinya.Melupakan kalau orang-orang tengah memperhatikan mereka.Melupakan kalau kejadian kecil seperti itu bisa menjadi scandal yang menghebohkan.Hanya lupa seperti masalalu yang hilang dari memori otaknya.
                        Ditengah guyuran hujan..bayangan samar itu muncul.Anna sangat memuja hujan..membiarkan dirinya kebasahan.Tapi dia tidak sendirian…ada seseorang disampingnya.Sebuah bayangan gelap…laki-laki dari masa lalu itu.
                        Anna hanya membiarkan sesuatu tumbuh disetiap relung jiwanya,menjalar disetiap nadinya.Membiarkan jantungnya berdebar kencang dan semakin kencang seakan sedang berpacu melawan waktu yang akan menggerusnya sebentar lagi.Waktu yang tidak akan memberikan kesempatan kepadanya untuk meraih apa yang diinginkan.Anna hanya terlena dalam permainan cinta.Terhanyut dan mungkin akan menenggelamkannya.Anna tidak perduli.Anna hanya jatuh cinta…tidak ada yang salah dengan hal itu.

Jumat, 27 Mei 2011

Secret lover#7
Patah hati


Hati tidak akan mudah patah bila selalu ada cinta didalamnya
Hati tidak akan  hancur bila cinta itu terus berkembang
Tapi hati juga selembut salju, akan lenyap bila terkena embun meski hanya setetes.
Bila kesetiaan terlanjur luntur…bila kepercayaan bukan lagi yang utama.

                        Acara peluncuran buku Anna berjalan dengan cukup sukses.Wartawan dan
penggemarnya yang hadir cukup puas dengan materi yang disuguhkan mengenai anak- anak.Setidaknya sesuatu yang ditakutkan Anna tidak terjadi.Mereka tidak menyinggung soal ketidakhadiran suaminya meski tema yang menonjol dibuku Anna mengenai hubungan suami istri.Kehadiran Fatur yang bersedia menjadi badut membuat suasana yang menegangkan menjadi gelak tawa.Anna cukup bersyukur ada seseorang disampingnya ketika berada dipuncak keputusasaan.Meski seharusnya orang itu adalah suaminya sendiri.
                        Masalah yang satu sudah selesai dan Anna ingin hubungannya dengan Reza kembali seperti dulu.Tidak seorangpun yang harus dipersalahkan bila hubungan mereka menjadi sangat hambar.Mungkin Anna kurang memperhatikannya terakhir ini meski keadaannya sudah berubah semenjak lama.Kesuksesan tidak akan menjamin kehidupan seseorang akan terus bahagia.Bahkan kesuksesan itu harus ditebus dengan airmata dan kehancuran.Anna berharap masih ada waktu untuk menyelamatkan rumah tangga mereka.Meski hatinya sedikit hancur dan berharap masih ada cinta untuk membuatnya kembali seperti dulu.
                        “Selamat siang bu…”
                        Donna sedikit terkejut ketika istri atasannya itu sudah berada dihadapannya.Terakhir ini dia merasa bersalah karena sudah memberikan kaset itu kepadanya.Berharap tidak terjadi apapun yang bisa merusak rumah tangga mereka.
                        “Apa kita bisa bicara sebentar..?”
                        “Sebenarnya saya masih sibuk…bapak khan akan pulang besok.Jadi semua file harus cepat saya siapkan…”
                        Donna mencoba mengelak.Tapi sepertinya dia harus bisa menghadapi masalah yang terlanjur dibuatnya.
                        “Hanya sebentar..aku tidak akan menyita waktumu terlalu lama.Mungkin sekalian makan siang….”
                        Memang sudah waktunya makan siang.Donna sudah terperangkap dan tidak ada alasan lagi untuk mencoba melarikan diri.
                        “Aku akan bicara langsung saja…soal vcd itu.Kamu mengenal wanita yang terlihat sedang bersama suamiku?”
                        Diatas meja sudah tersedia aneka makanan yang sangat lezat.Tapi selera makan Donna langsung hilang ketika Anna menyebut soal vcd yang diberikannya beberapa hari lang lalu.
                        “Maaf bu…soal wanita itu.Saya tidak mengenalnya…waktu itu saya sibuk mempersiapkan makalah untuk seminar.Jadi tidak tahu apa yang terjadi…”
                        “Jadi kamu mencoba untuk cuci tangan…aku yakin kamu tahu yang sebenarnya terjadi.Masalah ini cukup berat dan aku tidak sedang berpura-pura tidak terjadi apapun.Kamu tahu berapa kali suamiku pergi keBandung ? dalam sebulan ini saja hampir sepenuhnya dia berada disana.Masalah kerjaan tapi kenapa kamu malahan ada disini?aku yakin kamu adalah orang kepercayaan suamiku jadi tidak ada alasannya kenapa kamu tidak ikut bersamanya…”
                        Wajah Donna semakin pucat.Anna yakin sekertaris suaminya itu menyembunyikan sesuatu.Sesuatu yang sangat pahit tapi Anna harus mengetahuinya.
                        “Wanita itu memang pernah beberapa kali menelephone kekantor…tapi saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan.Hanya saja wanita itu sepertinya sangat yakin kalau bapak mau menerima telephonenya…”
                        Sedikit demi sedikit mulai terkuak.Anna menahan napasnya dalam-dalam.Mencoba untuk menguatkan hatinya karena cerita itu masih panjang.Hanya saja Donna seakan tidak ingin Anna mengetahui semuanya.
                        “Aku sangat menghargai perhatianmu terhadap rumahtangga kami…dengan memberikan vcd itu berarti kamu sudah memberitahukanku secara halus.Tapi aku tidak akan mempercayai semua itu begitu saja…kamu tahu siapa aku? Seorang penulis tidak akan mudah tertipu karena sering kali memperlajari sifat dan karakteristik manusia.Kamu bisa saja langsung mengatakannya padaku…tanpa memberikan umpan terlebih dahulu.Katakan saja vcd itu sebagai umpan…dan kamu sudah mendapatkan hasilnya.Aku sudah terlanjur melihat isi vcd itu…dan aku tidak bisa berbohong kalau aku tidak terpengaruh olehnya .”
                        Wajah Donna masih kelihatan pucat meski Anna berbicara sehalus mungkin.Bahkan kini tangannya juga gemetar menahan rasa takut yang menjelma seperti monster.Takut kalau istri atasannya itu akan mengetahui apa yang ada didalam pikirannya.Takut kalau sesuatu yang buruk akan terjadi terhadapnya karena sudah menyulut api dan berharap  tidak akan membakarnya nanti.
                        “Namanya Sarah…dia memang tinggal diBandung tapi saya tidak tahu alamatnya.Wanita itu selalu menemui Bapak kalau sedang kesana…dan Bapak…”
                        Ucapannya terhenti.Kali ini tubuh istri majikannya itu yang bergetar bahkan sampai mencengram ujung meja kuat-kuat.
                        “Maaf bu…saya sudah membuat masalah ini jadi lebih besar…”
                        “Ada satu lagi…aku ingin kamu menghubungi suamiku sekarang juga.Aku yakin saat ini mereka sedang bersama…”
                        Deg…jantung Donna seakan terhenti.Api yang disulutnya semakin besar.Dan airmatanya tidak akan membuat api itu lenyap dalam sekejap.
                        “Maafkan saya bu…saya tidak akan melakukannya bila ibu tidak kuat.Mungkin lain waktu karena kelihatannya ibu sedang tidak enak badan…”
                        “Aku yang lebih tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.Aku ingin segera menuntaskannya sekarang juga…jadi lekaslah hubungi suamiku.”
                        Donna tidak tahu harus berbuat apalagi agar api itu tidak ikut menghanguskannya.Tapi semua sudah terlambat dan tidak ada jalan lain untuk bersembunyi dan ikut terbakar didalamnya.Dengan jari yang gemetar menekan satu demi satu nomor telephone milik atasannya.Terdengar suara nada panggil namun bagi Donna suara itu seperti malaikat maut yang sebentar lagi akan mencabut nyawanya.
                        Wajah Donna semakin pucat pasi begitu mendengar suara dari ujung telephone.Suara yang sudah dikenalnya tapi saat itu tidak sedang ingin didengarnya.Tanpa menunggu lama Anna merebut hape yang dipegang Donna.Membuka telinganya lebar-lebar dan mendengarkan siapa yang mengangkat telephone suaminya.
                        Kali ini Raut wajah Anna juga ikut berubah pucat.Sangat jelas suara itu bukan suara suaminya tapi suara wanita.Tangannya gemetar dan tak sanggup untuk memegang hape itu lebih lama lagi.Donna tidak ingin menambah masalah lebih jauh lagi dan segera mematikan handphonenya.Agaknya api itu sudah menjadi besar dan tidak ada satupun yang bisa memadamkannya.
                        “Jadi benar soal wanita itu…?”
                        Suara Anna terdengar parau.Dia seperti merasa ada biji kedondong yang membuat suaranya menjadi serak.Tapi bukan itu yang membuat tubuhnya menjadi lemas.Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.Mengalahkan sebuah kepercayaan yang dibangun dengan segenap cintanya menjadi hancur berkeping-keping tanpa bisa disatukan lagi.
                        “Maafkan saya bu…”
                        Anna bangkit dari kursinya.Mencoba meraih ujung kursi ketika merasa sedikit sempoyongan.Namun sedetik kemudian ada sesuatu yang menyuruhnya untuk segera pergi.Tidak perduli airmata menetes membasahi pipinya.Tidak perduli beberapa pengunjung restoran yang mengenali Anna tengah membicarakan dirinya.Tidak ada yang perlu ditutupi lagi.Dia sudah patah hati.
*****
                        Anna tidak tahu arah yang ditujunya.Mobilnya terus melaju tanpa arah dan sedikit keluar lajur membuat beberapa pengemudi mobil dibelakangnya berteriak memaki.Anna benar-benar tidak perduli meski saat itu ada sebuah truk besar menggilas mobilnya.Membuat tubuhnya remuk tanpa bisa dikenali.Anna ingin menghilang…berharap sang bayu membawanya kesuatu tempat entah dimana.Kenegri dongeng dimana tidak ada kesedihan…dimana yang ada disana hanya kebahagiaan tanpa setetespun airmata.
                        Tapi angin membawa Anna kepinggir danau tempat biasanya dia menyepi untuk mendapatkan inspirasi.Kali ini Anna tidak menginginkan apa-apa.Tanpa harapan…tanpa keinginan…hanya hampa.Menumpahkan semua airmata diatas rumput hijau yang bertebaran disekelilingnya.Mungkin saja rumput itu akan menari untuk menghiburnya.Tapi mereka hanya bergoyang ketika angin berhembus.Tanpa suara…hanya sunyi.
                        Dug….sesuatu menimpa tubuh Anna.Dia segera menoleh dan menemukan sebuah bola kaki berada disampingnya.Bola itu menimpa cukup keras sehingga menimbulkan sedikit nyeri dipinggang Anna.Sejenak bola itu berhasil meredakan tangisan Anna.Membuatnya lupa kalau sedetik yang lalu menginginkan sebuah kematian datang menjemputnya.Tapi hanya benda berbentuk bundar itu yang datang.
                        “Hei…siapa yang sudah melemparkan bola ini?keluarlah…atau aku akan melemparkan bola ini ketengah danau dan kamu tidak akan bisa mendapatkannya kembali.”
                        Sesaat tidak ada suara apapun kecuali angina yang berhembus dan menghempaskan rambut panjang Anna.
                        Sebuah bayangan muncul dari balik pohon.Sebuah bayangan seorang anak laki-laki muncul lengkap dengan seragam sepakbolanya.Rambutnya yang sedikit gondrong menutupi sebagian wajahnya sehingga Anna tidak bisa melihatnya dengan jelas.
                        “Apa kamu yang sudah melemparkan bola ini ?”
                        Bayangan itu tidak menjawab.Dia hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.Anna seperti mengenal bayangan itu tapi dia benar-benar sudah menjadi pelupa.Seperti nenek berusia seratus tahun yang bahkan ingatannya jauh lebih besar dari Anna sendiri.
                        Bayangan anak kecil itu memberi isyarat agar memberikan bola itu padanya.Tanpa sadar Anna bergerak untuk melemparnya.Tapi anak itu melarangnya.Dia kembali memberi isyarat agar Anna menendangnya.Dan Anna menurutinya.
                         Anna segera bangkit dan meletakan bola itu tepat diujung kakinya.Mengumpulkan semua sisa kekuatannya dan menendang bola itu kuat-kuat.Bola itu melambung tinggi melewati anak laki-laki itu.Dia tersenyum lebar dan memberikan dua jempol untuk Anna.Tentu saja Anna sangat senang sampai tanpa terasa melompat kegirangan.Anak laki-laki itu terus tersenyum.Sesaat kemudian Anna baru sadar kalau dia bukanlah seorang anak laki-laki tapi anak perempuan.Angin berhembus dan menerbangkan sebagian Rambut yang menutupi telinganya.Disana ada sepasang anting yang menggantung dengan cantik.Ternyata dia adalah anak perempuan.
                        Pandangan Anna tiba-tiba menjadi buram.Begitu juga bayangan anak perempuan tomboy itu.Seperti fathamorgana yang hilang disapu sang bayu.Ikut terbang keangkasa menuju ketempat yang hanya ada didalam mimpi.Anna baru ingat siapa anak perempuan itu.Anak perempuan yang rambutnya selalu dipotong pendek.Anak perempuan yang selalu memiliki semangat hidup yang besar.Anna sangat mengenalnya karena dia adalah…dirinya sendiri.
                        Pandangan Anna benar-benar gelap.Tubuhnya sesaat melayang diudara sebelum ambruk diatas rumput.Namun sedetik kemudian sepasang tangan kekar meraihnya.Anna mengenali siapa pemilik tangan kekar yang hangat itu.
                        “Fatur….”
                        Pemilik tangan kekar itu hanya mendesah.Memeluk tubuh Anna erat seakan enggan untuk melepasnya.Membawanya kesebuah tempat dimana tidak ada airmata.Hanya ada kebahagiaan yang akan selalu mereka dapatkan.
                        Anna membuka matanya dan melihat hamparan awan putih yang mengisi hampir sepenuhnya dari angkasa.Hari hampir sore sehingga sudah tidak begitu panas.Anna tidak perlu menyipitkan matanya agar bisa melihat awan-awan itu.Beberapa burung terbang kembali kesarangnya yang berada diatas pohon yang tidak jauh dari tempat Anna berbaring. Disana ada anak-anak burung yang menunggu mereka.Burung-burung itu akan memberikan makanan yang disimpan didalam tenggorokannya untuk anak-anaknya.Kemudian angin berhembus sangat menyejukan.Anna merasa sangat betah berada ditempat itu.Tapi kemudian matanya melotot begitu sadar kalau dirinya tengah berbaring dipangkuan Fatur.
                        “Apa yang terjadi?sedang apa kamu disini?”
                        Ucap Anna sedikit berteriak.Fatur memajang senyum khasnya.
                        “Aku rasa kamu harus berterimakasih terlebih dahulu..kalau aku tidak melewati tempat ini mungkin ada oranglain yang akan menemukan dirimu pingsan.Mereka bisa saja melakukan hal buruk terhadapmu…aku tidak ingin membayangkannya karena akan sangat mengerikan.”
                        “Apa kamu kira aku akan melakukannya? Aku sangat mengenal tempat ini…disini tidak orang yang punya pikiran jahat selain dirimu tentunya…”
                        Anna bangkit dari duduknya.Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan berniat untuk segera meninggalkan tempat itu.
                        “Kita harus bicara….”
                        Fatur sangat tahu Anna tidak akan mudah bicara tentang masalahnya kepada oranglain.Tapi sepertinya Anna sedang mengalami peristiwa yang sangat berat sampai membuat tubuhnya tidak bisa berkompromi lagi.
                        “Oke…terima kasih.Atas suksesnya acara kemarin…juga dengan apa yang terjadi barusan.Aku rasa aku tidak bisa egois karena kamu selalu ada disaat aku membutuhkan pertolongan.Tapi hanya sampai disini saja…aku harap kita tidak usah bertemu lagi .”
                        Anna meraih tasnya dan berniat untuk beranjak pergi.Tapi sedetik kemudian Fatur menarik tangannya dan menggenggamnya erat-erat.Wajah Anna memerah dan berusaha melepaskan genggamannya meski hanya membuat tangan Fatur semakin kuat.
                        “Hentikan…hentikan..”
                        Fatur tidak berniat untuk merenggangkan tangannya apalagi melepasnya.Membuat Anna semakin terjebak didalam amarah dan melemparkan tasnya kearah Fatur.Namun laki-laki itu tidak bergeming sama sekali seakan sangat tahu apa yang sedang dilakukannya.
                        Disaat lain Anna seperti sudah berada dititik nadir yang paling ditakutinya.Tubuhnya menjadi lemas dan yang ada hanya isak tangis yang keluar begitu saja.Hanya itu yang ingin dilihat Fatur.Membuat Anna mengeluarkan semua amarahnya meski membuatnya sedikit terluka.Membiarkan Anna tenggelam didalam tangis dan memberikan bahunya untuk tempat menumpahkan semua kesedihannya.
                        Senja mulai datang dan membuat taman itu sedikit gelap.Bayangan  mentari yang tinggal sebagian masih menari diatas danau ketika sang bayu membawa angin malam.Tak lama kemudian lampu taman menyala dan tempat itu kembali terang meski tidak seperti waktu siang.
                        Cukup lama juga Anna menumpahkan tangisnya dibahu Fatur sebelum akhirnya menyadari kalau airmatanya sudah mongering.Anna sedikit malu karena selalu mencurigai kehadiran Fatur yang selalu dating tiba-tiba.Pada kenyataannya sosok laki-laki itu seperti seorang superman yang selalu datang setiap kali Anna membutuhkan pertolongan.
                        “Aku tidak akan memaksamu…tapi kita harus bicara suatu saat nanti.Sebelum semua menjadi terlambat dan membuat hidup anak-anakmu berantakan.Aku yakin kamu sangat mencintai mereka…tapi apa yang sedang kamu alami tidak seharusnya membuat mereka juga ikut menderita.”
                        Anna mengangguk pelan sebelum masuk kedalam mobilnya.Apa yang dikatakan Fatur memang benar.Anna harus berani menceritakan semua masalahnya meski kepada seorang laki-laki yang tidak begitu dikenalnya.Tapi Anna merasa kalau Fatur bisa dipercaya dan tidak akan membocorkan rahasianya kepada orang lain.Ada sesuatu yang membuat mereka dekat dan semakin dekat.Entah sebuah ketidaksengajaan atau memang tuhan sudah mengirimkan seseorang untuk membantu Anna melalui semua masalahnya.
                        Hatinya memang sudah terlanjur patah tanpa tahu apakah bisa disambung lagi.Kebahagiaannya sedang berada dipersimpangan dan Anna harus tahu jalan yang terbaik untuk dilaluinya.Anna tidak ingin melakukan kesalahan dan memilih jalan yang salah.Tapi dia tidak bisa menolak perhatian laki-laki lain ketika sedang patah hati.Membuat dirinya tetap terjaga dan tidak semakin terpuruk.Membuat hatinya berbunga meski tidak akan pernah bisa mengembang.

Sabtu, 14 Mei 2011

Secret lover # 6
Terjebak
                       


Terjebak….
Mencari jalan keluar tapi semua pintu telah terkunci
Mencari setitik cahaya namun yang ada hanya hitam kelam
Mencoba menyambung hati yang hampir patah
Tak kuasa bergerak dengan tangan terikat
                       


                        Anna tidak menyangka kehadiran Fatur membuat harinya sedikit berwarna.Sebuah ketidak sengajaan yang cukup sempurna.Membuatnya enggan kembali ketitik nadir dan menikmati kebangkitan yang membuat hidupnya lebih berarti.
                        Hari ulangtahun Anna berlalu tanpa kehadiran Reza.Dia kembali keesokan harinya dengan tanpa sedikitpun menyinggung tentang hari yang seharusnya istimewa itu.Anna hanya diam saja meski hatinya terbungkus kegelisahan.Mencoba bertahan dan berharap tidak akan meledak dan membuat hidupnya semakin hancur.Tapi kehancuran itu sepertinya sudah nampak didepan mata.
                        “Hari minggu ini peluncuran bukuku yang baru…aku harap kamu ada disisiku nanti .”
                        Secangkir kopi mungkin bisa menghangatkan suasana namun malahan membuatnya semakin dingin.
                        “Aku sibuk…”
                        Dingin…Anna sedikit menyesal karena sudah membuatkan kopi itu apalagi Reza tidak meliriknya sama sekali.
                        “Novelku kali ini berhubungan dengan suasana rumathtangga kita…jadi kehadiranmu sangat aku butuhkan .”
                        Reza tersenyum tipis.Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
                        “Apa tidak bisa menulis sesuatu yang beda selain tentang hidupmu…karena aku sendiri risih berada didalam bukumu dan semua orang akan tahu apa yang terjadi diantara kita.”
                        Anna terdiam sambil menahan napasnya.Berharap tidak akan bernapas lagi daripada mendengar sesuatu yang sangat menyakitkan.
                        “Aku hanya menulis tentang kebahagiaan kita…apa hal itu tidak membuatmu bangga?”
                        Reza menutup laptopnya sambil melepaskan napas panjang.Raut wajahnya seakan bicara kalau Anna sangat mengganggunya.
                        “Kehidupan rumahtangga bukan untuk konsumsi public, apapun alasannya.Buku itu sudah terlanjur keluar tapi aku tidak ingin berada disana dan jadi bulan-bulanan media.Lagipula sabtu sore aku harus keBandung lagi…”
                        Glek…kering.Anna merasa tenggorokannya sangat kering.Meneguk habis kopi yang dibuatnya untuk Reza.Sementara dia hanya berlalu menuju kedunia antah berantah.Anna tidak ingin tahu.Benar-benar tidak ingin tahu.
                        Seperti itulah kehidupan rumah tangganya yang asli.Entah bagaimana Anna bisa menuliskan sebuah kebahagiaan yang tidak benar-benar dirasakannya.Semua hanya hambar.Seperti sayur tanpa garam.Anna teringat lagu dangdut jaman dulu.Hanya saja tanpa senyuman terukir disudut bibirnya.
                        Mungkin orang akan menganggap novelnya kali ini hanya ilusi belaka.Anna tidak perduli.Mungkin juga tidak satu orangpun yang akan membacanya.Anna juga tidak perduli.Anna sudah terjebak didalam kehidupan yang tidak pernah diinginkan satu orangpun.Terjebak disebuah ruangan tanpa ada jalan tuk keluar.Membuatnya sulit tuk bernapas dan perlahan-lahan mati.
*****
                        Kali ini Anna pergi sendirian tanpa kedua putranya.Mereka berada dalam pengawasan ibu dan adik perempuannya yang masih lajang.Mencari bahan-bahan materi ditoko buku untuk peluncuran bukunya minggu nanti.Sebenarnya Anna sendiri tidak tahu materi apa yang pantas menjadi pendamping bukunya.Mengisi ruang kosong bila media menanyakan kehadiran suaminya.
                        Anna sedikit tahu jalan pikiran para wartawan.Mereka mencari sedikit celah agar bisa mencari kesalahan meski hanya sebutir pasir.sebutir pasir itu bisa saja menjadi sebongkah batu dan menyulitkannya.Untuk itulah Anna mencari sesuatu yang sedikit beda.Seharusnya suasana akan dibuatnya menjadi romantis tapi rencananya berubah.Berharap suasananya tidak menjadi melankolis dan banjir airmata.Tidak…tidak akan separah itu.Banyak wanita yang membaca bukunya dan Anna tidak ingin yang ada dihati mereka hanya  kesedihan.
                        “Hai…”
                        Anna sudah mulai terbiasa mendengar suara itu.Dan benar saja karena orang yang ada didalam pikiran Anna sudah berdiri disampingnya.
                        “Sebuah kebetulan…bukan begitu bung Fatur ?”
                        Pertanyaan Anna sedikit menyindir tapi Fatur memasang muka tidak bersalah.
                        “Tidak..mungkin hanya angin yang membisikan padaku untuk datang ketempat ini…atau mungkin memang benar kalau aku sudah mengikutimu.Apa kamu takut?”
                        Anna hanya tersenyum tipis tanpa memberi komentar sedikitpun.Matanya masih saja mencari buku meski konsentrasinya hampir pudar.
                        “Kau tidak membawa anak-anak? Sebenarnya aku berniat mengajak mereka untuk nonton…ada kartun bagus yang sedang tayang dibioskop.Mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama….”
                        Anna terdiam.Dia tidak bisa menebak jalan pikiran Fatur.Mana mungkin mereka sengaja untuk pergi bersama sedangkan sosok pribadi Fatur masih samar-samar.Anna hanya mengenal fisik dan suaranya.Selebihnya tidak tahu apa-apa dan Anna tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh lagi.
                        “Kamu sudah gila yach…aku berterima kasih atas perhatianmu dihari ulangtahunku tempo hari.Tapi tetap saja kamu hanya orang asing bagiku dan anak-anakku.Sudahlah… hari ini aku ingin sendirian jadi jangan ganggu aku lagi oke.”
                        Mata Anna sedikit memerah karena menahan amarah.Mungkin juga hatinya memang sedang bad mood jadi hal kecilpun bisa membangkitkan kemarahannya.Tapi Fatur masih berdiri ditempatnya semula.Tidak terpengaruh dengan ucapan Anna yang sedikit berteriak.Dia hanya tersenyum, sebuah senyuman yang sekali lagi seperti dikenal Anna.
                        “Aku tahu minggu nanti kamu akan meluncurkan novelmu yang baru…aku tidak ingin mengganggumu tapi mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu.Mungkin dengan beberapa buku ini…”
                        Fatur mengambil beberapa buku tentang kehidupan anak-anak yang ada tepat disamping Anna.Membuat Anna sedikit risih karena wajah mereka hampir berbenturan.
                        Anna melihat buku-buku yang disodorkan Fatur.Membaca judulnya dalam hati dan merasa ada sebuah inspirasi menyelinap dikepalanya.
                        Kebahagiaan sebuah keluarga bukan hanya hubungan suami istri tapi dengan anak-anak didalamnya.Merekalah yang membuat kebahagiaan itu dengan keceriaan dan kemurniaan cintanya.
                        “Jadi…apa kehadiranku memang hanya membuatmu kesal…atau sekarang akulah yang menjadi sumber inspirasimu?”
                        Anna melotot dan cepat mengambil buku yang sedang dipegang Fatur.Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya dan meninggalkan Fatur sendirian.Anna tidak ingin berdebat.Beberapa pegawai toko dan sekuriti sudah memperhatikan mereka .Ruangan itu sudah menjadi riuh bukan hanya karena percakapan mereka tapi kehadiran Anna yang cukup menarik perhatian.Padahal Anna sudah mengenakan tazmina, kerudung panjang yang menutupi sebagian wajahnya.Tapi mereka masih bisa mengenalinya.
                        “Seharusnya akulah yang mendapatkan hadiah secangkir kopi karena sudah memberikan inspirasi padamu..bukan aku yang membelikannya untukmu.”
                        “Aku tidak pernah memintamu untuk membelikan kopi itu…aku sudah memesan green tea. Jadi diamlah dan jangan banyak bicara karena aku sedang sibuk…”
                        Anna terus saja menulis beberapa wacana di I-PHONE nya tanpa memperdulikan Fatur.Seperti biasa laki-laki itu tidak punya malu dan duduk didepan Anna sambil menyodorkan kopinya.
                        “Minumlah…akan meredakan sedikit amarahmu.”
                        Anna mendongak.Terakhir ini Anna memang menjadi sedikit pemarah namun tidak seorangpun yang mengingatkannya.
                        “Siapa bilang aku sedang marah ?aku hanya sedang dikejar date line…”
                        “Tapi tidak berarti semua orang didekatmu harus jadi korban…jangan…jangan kedua anakmu juga sudah menjadi korban kemarahanmu yach?”
                        Anna segera merebut cangkir kopi yang dipegang Fatur.Bukan karena menginginkannya tapi hanya untuk membuat laki-laki itu diam.
                        “Aku sudah meminumnya jadi…diamlah .”
                        Fatur hanya tersenyum.Sekali lagi senyuman itu menyihir Anna.Anna seperti pernah mengenal laki-laki dengan senyuman seperti itu tapi tak bisa mengingatnya sama sekali.
                        “Baiklah aku akan diam…”
                        Anna kembali lagi dengan kesibukannya.Ide Fatur untuk menampilkan tentang anak-anak memang sangat luar biasa tapi Anna tidak ingin memujinya karena hanya akan membuat laki-laki itu besar kepala.
                        “Bagaimana dengan sedikit permainan…anak-anak sangat senang dengan permainan, balon dan mungkin juga sedikit ice cream.Aku bisa menata ruangannya untukmu…aku pernah bergabung dengan perusahaan yang membuat iklan untuk anak-anak.Bahkan kalau kamu ijinkan aku bisa menjadi badut agar membuat mereka bertambah senang…”
                        Anna mendongak dan menemukan mata laki-laki itu bersinar.Mungkin Fatur pernah menikah dan memiliki seorang anak.Dia kelihatan sangat berpengalaman menghadapi mereka.Mungkin juga saat ini Fatur sedang merindukan anak-anaknya.
                        Kalau Anna setuju dengan semua ide yang dikemukakan Fatur bukan karena untuk kepentingannya sendiri.Tapi karena Fatur benar-benar menikmatinya.Dengan lugas dia mengeluarkan semua isi kepalanya tanpa ragu sedikitpun.Tanpa pernah membicarakan tentang masalah bisnis karena biasanya Anna memakai konsultan untuk membuat peluncuran bukunya menjadi sukses.Membuat mereka semakin dekat dan tanpa Anna sadari sudah menggantung harapan dilangit.Sebuah harapan yang bias saja menjadi kenyataan.
*****
                        Anna tidak perduli  kalau sore itu Reza harus kembali lagi keBandung.Biasanya dengan sabar Anna menyiapkan semua keperluan Reza meski akhirnya pendapatnya tidak dipakai sama sekali.Membuat Anna sedikit trauma dan merasa yang diberikannya bukanlah bantuan tapi hanya kesulitan bagi Reza.Mungkin ada baiknya kali ini Anna tidak ada disampingnya.Mungkin saja Reza merasa ada yang beda tapi Anna merasa sudah kehilangan asa.Tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
                        Rencananya sudah matang.Staf  diperusahaan penerbit Anna sudah tahu apa yang akan dilakukan Anna dipeluncuran bukunya nanti.Fatur juga sudah diperkenalkan kepada mereka.Anna semakin senang karena Fatur pandai bergaul dan cepat beradaptasi dengan orang-orang yang dekat dengan Anna.
                        Hanya saja Anna tidak yakin kalau Fatur akan benar-benar menjadi badut seperti yang dikatakannya.Anna mengenal beberapa orang yang sangat bersemangat mengorbankan dirinya hanya untuk mendapatkan sebuah kepercayaan.Tapi ketika sampai pada waktunya orang lainlah yang melakukannya sementara dia hanya sibuk dibelakang meja.
                        “Bagaimana…kamu senang dengan interiornya?”
                        Anna hanya tersenyum.Tidak ingin apa yang dikatakannya membuat Fatur menjadi besar kepala.
                        “Lumayan meriah…seperti ada perayaan ulang tahun meski tidak seperti acara peluncuran buku.”
                        “Benar…anggap saja ulangtahunmu akan dirayakan besok.”
                        Anna melotot.Dia sangat tahu kalau tidak seorangpun yang tahu tanggal lahirnya.Sedikit takut dengan kejutan yang akan didapatnya dan biasanya tidak begitu menyenangkan.
                        Bayangan itu.Kepala Anna sedikit berputar.Sebuah perayaan, ada tawa dan tepuk tangan.Ada sebuah bayangan memberinya sebuah bingkisan.Senyuman itu…dia memiliki senyuman itu.Kepala Anna kembali berputar.Pusing dan membuatnya hampir jatuh.
                        “Kamu baik-baik saja…?”
                        Anna mendapati dirinya berada didalam pelukan Fatur.Segera bangkit meski kepalanya masih terasa pusing.
                        “Istirahatlah…siapkan dirimu untuk acara final besok.Jangan sampai sakit…”
                        Apa yang dikatakan Fatur memang benar.Beberapa hari ini jadwalnya sangat padat.Meskipun berada dirumah Anna tidak sepenuhnya istirahat.Dia harus menyiapkan materi yang paling sempurna dan membuat acaranya sukses.Entah mengapa Anna jadi setegang itu.Mungkin juga karena hatinya harus terbelah dan tidak bias membaginya dengan adil.
                        “Aku baik-baik saja…”
                        “Aku akan mengambilkanmu secangkir teh dan obat pusing…tapi aku sarankan agar kamu pulang saja.Semuanya hampir sempurna, hanya tinggal beberapa hal kecil saja…”
                        Anna membiarkan Fatur berlalu.Dia tidak begitu mendengar apa yang dikatakannya.Bayangan itu semakin jelas.Sedikit demi sedikit nampak seperti sebuah film yang diputar kembali hanya saja membuat kepalanya seperti dibenturkan kedinding dengan cukup keras.
                        Sebuah perayaan…mungkin juga ulangtahun atau acara perpisahan.Anna pernah berada disana.Tanpa sadar Anna memukul kepalanya beberapa kali berharap rasa sakitnya hilang.Atau berharap kenangan itu menjadi jelas.Fatur menangkap tangan Anna ketika akan memukul kepalanya lagi.Membuat kenangan itu hilang sempurna dan yang ada hanya seraut wajah yang kelihatan sangat khawatir.
                        “Jangan siksa dirimu…”
                        Fatur menyodorkan sebutir obat sakit kepala dan secangkir teh hangat.Raut wajahnya masih sama bahkan kelihatan semakin cemas.
                        “Aku akan mengantarkanmu pulang dan jangan berdebat lagi.Aku tidak ingin melihatmu tergeletak diatas lantai dan pingsan.Wajahmu sangat pucat…jadi aku harap kali ini kamu mau menurutiku .”
                        Ucapan Fatur sangat tegas.Mungkin Anna bisa saja membantahnya tapi tubuhnya tidak bisa berkompromi.Anna memang butuh istirahat.Tapi hal itu tidak akan didapatnya bila sudah berada dirumah apalagi Reza mungkin belum pergi.
                        “Anak-anakku ada dirumah mama…jadi tolong antarkan aku kesana .”
                        “Baiklah…”
                        Tanpa menunggu lama Fatur membopong tubuh Anna menuju kedalam mobilnya.Sepanjang jalan Anna hanya memejamkan mata dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.Dia sangat terkejut ketika mobil berhenti dan sudah berada didepan rumahnya.Bagaimana Fatur tahu dimana rumah yang pernah ditinggalinya ketika sebelum menikah dulu.Pertanyaan itu untuk sementara disimpannya rapat-rapat.Laki-laki itu memang penuh misteri dan Anna berharap bisa mengenalnya lebih baik lagi.Tapi tidak sekarang…mungkin nanti.Anna merasa waktu sudah menjebaknya kedalam alur cerita yang penuh dengan harapan.Hanya saja bila sampai pada waktunya Anna berharap bisa melepaskan diri dan kembali sebagai seorang istri dan ibu.
*****             
                        Reza menarik napas sambil menatap ruangan yang terasa hampa.Tidak ada siapapun disana kecuali kesunyian.Tidak ada bayangan lembut istrinya dan gelak tawa anak-anaknya.Baru kali ini Reza menemukan rumahnya kosong.Biasanya mereka selalu ada disetiap dia akan pergi ataupun pulang.Tapi Reza tidak memperdulikan mereka.Asyik didalam dunianya sendiri,asyik didalam sebuah permainan cinta yang sudah membuatnya tenggelam semakin dalam.
                         Reza tidak tahu kapan dia memulai permainan itu.Ketika tersadar sudah terjebak didalamnya dan tak mampu mencari jalan keluar.Reza sangat tahu yang ada didalam permainan itu hanya dosa dan pengkhianatan.Tapi waktu tak memberikan kesempatan sedetikpun untuk sadar dan kembali sebagai seorang laki-laki sejati.Sesungguhnya cinta untuk istri dan anak-anaknya masih sama besarnya seperti dulu.Hanya saja permainan itu sudah menyamarkan arti cinta yang sebenarnya.Mewujudkannya kedalam sesosok wajah cantik yang membuatnya hampir gila dan melupakan semuanya.Reza hanya perlu sedikit waktu lagi agar bisa menghapus kabut yang selama ini sudah menghilangkan pandangannya.Berharap kesempatan itu masih ada dan tidak membuat semuanya menjadi terlambat.