Secret lover # 6
Terjebak
Terjebak….
Mencari jalan keluar tapi semua pintu telah terkunci
Mencari setitik cahaya namun yang ada hanya hitam kelam
Mencoba menyambung hati yang hampir patah
Tak kuasa bergerak dengan tangan terikat
Anna tidak menyangka kehadiran Fatur membuat harinya sedikit berwarna.Sebuah ketidak sengajaan yang cukup sempurna.Membuatnya enggan kembali ketitik nadir dan menikmati kebangkitan yang membuat hidupnya lebih berarti.
Hari ulangtahun Anna berlalu tanpa kehadiran Reza.Dia kembali keesokan harinya dengan tanpa sedikitpun menyinggung tentang hari yang seharusnya istimewa itu.Anna hanya diam saja meski hatinya terbungkus kegelisahan.Mencoba bertahan dan berharap tidak akan meledak dan membuat hidupnya semakin hancur.Tapi kehancuran itu sepertinya sudah nampak didepan mata.
“Hari minggu ini peluncuran bukuku yang baru…aku harap kamu ada disisiku nanti .”
Secangkir kopi mungkin bisa menghangatkan suasana namun malahan membuatnya semakin dingin.
“Aku sibuk…”
Dingin…Anna sedikit menyesal karena sudah membuatkan kopi itu apalagi Reza tidak meliriknya sama sekali.
“Novelku kali ini berhubungan dengan suasana rumathtangga kita…jadi kehadiranmu sangat aku butuhkan .”
Reza tersenyum tipis.Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
“Apa tidak bisa menulis sesuatu yang beda selain tentang hidupmu…karena aku sendiri risih berada didalam bukumu dan semua orang akan tahu apa yang terjadi diantara kita.”
Anna terdiam sambil menahan napasnya.Berharap tidak akan bernapas lagi daripada mendengar sesuatu yang sangat menyakitkan.
“Aku hanya menulis tentang kebahagiaan kita…apa hal itu tidak membuatmu bangga?”
Reza menutup laptopnya sambil melepaskan napas panjang.Raut wajahnya seakan bicara kalau Anna sangat mengganggunya.
“Kehidupan rumahtangga bukan untuk konsumsi public, apapun alasannya.Buku itu sudah terlanjur keluar tapi aku tidak ingin berada disana dan jadi bulan-bulanan media.Lagipula sabtu sore aku harus keBandung lagi…”
Glek…kering.Anna merasa tenggorokannya sangat kering.Meneguk habis kopi yang dibuatnya untuk Reza.Sementara dia hanya berlalu menuju kedunia antah berantah.Anna tidak ingin tahu.Benar-benar tidak ingin tahu.
Seperti itulah kehidupan rumah tangganya yang asli.Entah bagaimana Anna bisa menuliskan sebuah kebahagiaan yang tidak benar-benar dirasakannya.Semua hanya hambar.Seperti sayur tanpa garam.Anna teringat lagu dangdut jaman dulu.Hanya saja tanpa senyuman terukir disudut bibirnya.
Mungkin orang akan menganggap novelnya kali ini hanya ilusi belaka.Anna tidak perduli.Mungkin juga tidak satu orangpun yang akan membacanya.Anna juga tidak perduli.Anna sudah terjebak didalam kehidupan yang tidak pernah diinginkan satu orangpun.Terjebak disebuah ruangan tanpa ada jalan tuk keluar.Membuatnya sulit tuk bernapas dan perlahan-lahan mati.
*****
Kali ini Anna pergi sendirian tanpa kedua putranya.Mereka berada dalam pengawasan ibu dan adik perempuannya yang masih lajang.Mencari bahan-bahan materi ditoko buku untuk peluncuran bukunya minggu nanti.Sebenarnya Anna sendiri tidak tahu materi apa yang pantas menjadi pendamping bukunya.Mengisi ruang kosong bila media menanyakan kehadiran suaminya.
Anna sedikit tahu jalan pikiran para wartawan.Mereka mencari sedikit celah agar bisa mencari kesalahan meski hanya sebutir pasir.sebutir pasir itu bisa saja menjadi sebongkah batu dan menyulitkannya.Untuk itulah Anna mencari sesuatu yang sedikit beda.Seharusnya suasana akan dibuatnya menjadi romantis tapi rencananya berubah.Berharap suasananya tidak menjadi melankolis dan banjir airmata.Tidak…tidak akan separah itu.Banyak wanita yang membaca bukunya dan Anna tidak ingin yang ada dihati mereka hanya kesedihan.
“Hai…”
Anna sudah mulai terbiasa mendengar suara itu.Dan benar saja karena orang yang ada didalam pikiran Anna sudah berdiri disampingnya.
“Sebuah kebetulan…bukan begitu bung Fatur ?”
Pertanyaan Anna sedikit menyindir tapi Fatur memasang muka tidak bersalah.
“Tidak..mungkin hanya angin yang membisikan padaku untuk datang ketempat ini…atau mungkin memang benar kalau aku sudah mengikutimu.Apa kamu takut?”
Anna hanya tersenyum tipis tanpa memberi komentar sedikitpun.Matanya masih saja mencari buku meski konsentrasinya hampir pudar.
“Kau tidak membawa anak-anak? Sebenarnya aku berniat mengajak mereka untuk nonton…ada kartun bagus yang sedang tayang dibioskop.Mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama….”
Anna terdiam.Dia tidak bisa menebak jalan pikiran Fatur.Mana mungkin mereka sengaja untuk pergi bersama sedangkan sosok pribadi Fatur masih samar-samar.Anna hanya mengenal fisik dan suaranya.Selebihnya tidak tahu apa-apa dan Anna tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh lagi.
“Kamu sudah gila yach…aku berterima kasih atas perhatianmu dihari ulangtahunku tempo hari.Tapi tetap saja kamu hanya orang asing bagiku dan anak-anakku.Sudahlah… hari ini aku ingin sendirian jadi jangan ganggu aku lagi oke.”
Mata Anna sedikit memerah karena menahan amarah.Mungkin juga hatinya memang sedang bad mood jadi hal kecilpun bisa membangkitkan kemarahannya.Tapi Fatur masih berdiri ditempatnya semula.Tidak terpengaruh dengan ucapan Anna yang sedikit berteriak.Dia hanya tersenyum, sebuah senyuman yang sekali lagi seperti dikenal Anna.
“Aku tahu minggu nanti kamu akan meluncurkan novelmu yang baru…aku tidak ingin mengganggumu tapi mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu.Mungkin dengan beberapa buku ini…”
Fatur mengambil beberapa buku tentang kehidupan anak-anak yang ada tepat disamping Anna.Membuat Anna sedikit risih karena wajah mereka hampir berbenturan.
Anna melihat buku-buku yang disodorkan Fatur.Membaca judulnya dalam hati dan merasa ada sebuah inspirasi menyelinap dikepalanya.
Kebahagiaan sebuah keluarga bukan hanya hubungan suami istri tapi dengan anak-anak didalamnya.Merekalah yang membuat kebahagiaan itu dengan keceriaan dan kemurniaan cintanya.
“Jadi…apa kehadiranku memang hanya membuatmu kesal…atau sekarang akulah yang menjadi sumber inspirasimu?”
Anna melotot dan cepat mengambil buku yang sedang dipegang Fatur.Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya dan meninggalkan Fatur sendirian.Anna tidak ingin berdebat.Beberapa pegawai toko dan sekuriti sudah memperhatikan mereka .Ruangan itu sudah menjadi riuh bukan hanya karena percakapan mereka tapi kehadiran Anna yang cukup menarik perhatian.Padahal Anna sudah mengenakan tazmina, kerudung panjang yang menutupi sebagian wajahnya.Tapi mereka masih bisa mengenalinya.
“Seharusnya akulah yang mendapatkan hadiah secangkir kopi karena sudah memberikan inspirasi padamu..bukan aku yang membelikannya untukmu.”
“Aku tidak pernah memintamu untuk membelikan kopi itu…aku sudah memesan green tea. Jadi diamlah dan jangan banyak bicara karena aku sedang sibuk…”
Anna terus saja menulis beberapa wacana di I-PHONE nya tanpa memperdulikan Fatur.Seperti biasa laki-laki itu tidak punya malu dan duduk didepan Anna sambil menyodorkan kopinya.
“Minumlah…akan meredakan sedikit amarahmu.”
Anna mendongak.Terakhir ini Anna memang menjadi sedikit pemarah namun tidak seorangpun yang mengingatkannya.
“Siapa bilang aku sedang marah ?aku hanya sedang dikejar date line…”
“Tapi tidak berarti semua orang didekatmu harus jadi korban…jangan…jangan kedua anakmu juga sudah menjadi korban kemarahanmu yach?”
Anna segera merebut cangkir kopi yang dipegang Fatur.Bukan karena menginginkannya tapi hanya untuk membuat laki-laki itu diam.
“Aku sudah meminumnya jadi…diamlah .”
Fatur hanya tersenyum.Sekali lagi senyuman itu menyihir Anna.Anna seperti pernah mengenal laki-laki dengan senyuman seperti itu tapi tak bisa mengingatnya sama sekali.
“Baiklah aku akan diam…”
Anna kembali lagi dengan kesibukannya.Ide Fatur untuk menampilkan tentang anak-anak memang sangat luar biasa tapi Anna tidak ingin memujinya karena hanya akan membuat laki-laki itu besar kepala.
“Bagaimana dengan sedikit permainan…anak-anak sangat senang dengan permainan, balon dan mungkin juga sedikit ice cream.Aku bisa menata ruangannya untukmu…aku pernah bergabung dengan perusahaan yang membuat iklan untuk anak-anak.Bahkan kalau kamu ijinkan aku bisa menjadi badut agar membuat mereka bertambah senang…”
Anna mendongak dan menemukan mata laki-laki itu bersinar.Mungkin Fatur pernah menikah dan memiliki seorang anak.Dia kelihatan sangat berpengalaman menghadapi mereka.Mungkin juga saat ini Fatur sedang merindukan anak-anaknya.
Kalau Anna setuju dengan semua ide yang dikemukakan Fatur bukan karena untuk kepentingannya sendiri.Tapi karena Fatur benar-benar menikmatinya.Dengan lugas dia mengeluarkan semua isi kepalanya tanpa ragu sedikitpun.Tanpa pernah membicarakan tentang masalah bisnis karena biasanya Anna memakai konsultan untuk membuat peluncuran bukunya menjadi sukses.Membuat mereka semakin dekat dan tanpa Anna sadari sudah menggantung harapan dilangit.Sebuah harapan yang bias saja menjadi kenyataan.
*****
Anna tidak perduli kalau sore itu Reza harus kembali lagi keBandung.Biasanya dengan sabar Anna menyiapkan semua keperluan Reza meski akhirnya pendapatnya tidak dipakai sama sekali.Membuat Anna sedikit trauma dan merasa yang diberikannya bukanlah bantuan tapi hanya kesulitan bagi Reza.Mungkin ada baiknya kali ini Anna tidak ada disampingnya.Mungkin saja Reza merasa ada yang beda tapi Anna merasa sudah kehilangan asa.Tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
Rencananya sudah matang.Staf diperusahaan penerbit Anna sudah tahu apa yang akan dilakukan Anna dipeluncuran bukunya nanti.Fatur juga sudah diperkenalkan kepada mereka.Anna semakin senang karena Fatur pandai bergaul dan cepat beradaptasi dengan orang-orang yang dekat dengan Anna.
Hanya saja Anna tidak yakin kalau Fatur akan benar-benar menjadi badut seperti yang dikatakannya.Anna mengenal beberapa orang yang sangat bersemangat mengorbankan dirinya hanya untuk mendapatkan sebuah kepercayaan.Tapi ketika sampai pada waktunya orang lainlah yang melakukannya sementara dia hanya sibuk dibelakang meja.
“Bagaimana…kamu senang dengan interiornya?”
Anna hanya tersenyum.Tidak ingin apa yang dikatakannya membuat Fatur menjadi besar kepala.
“Lumayan meriah…seperti ada perayaan ulang tahun meski tidak seperti acara peluncuran buku.”
“Benar…anggap saja ulangtahunmu akan dirayakan besok.”
Anna melotot.Dia sangat tahu kalau tidak seorangpun yang tahu tanggal lahirnya.Sedikit takut dengan kejutan yang akan didapatnya dan biasanya tidak begitu menyenangkan.
Bayangan itu.Kepala Anna sedikit berputar.Sebuah perayaan, ada tawa dan tepuk tangan.Ada sebuah bayangan memberinya sebuah bingkisan.Senyuman itu…dia memiliki senyuman itu.Kepala Anna kembali berputar.Pusing dan membuatnya hampir jatuh.
“Kamu baik-baik saja…?”
Anna mendapati dirinya berada didalam pelukan Fatur.Segera bangkit meski kepalanya masih terasa pusing.
“Istirahatlah…siapkan dirimu untuk acara final besok.Jangan sampai sakit…”
Apa yang dikatakan Fatur memang benar.Beberapa hari ini jadwalnya sangat padat.Meskipun berada dirumah Anna tidak sepenuhnya istirahat.Dia harus menyiapkan materi yang paling sempurna dan membuat acaranya sukses.Entah mengapa Anna jadi setegang itu.Mungkin juga karena hatinya harus terbelah dan tidak bias membaginya dengan adil.
“Aku baik-baik saja…”
“Aku akan mengambilkanmu secangkir teh dan obat pusing…tapi aku sarankan agar kamu pulang saja.Semuanya hampir sempurna, hanya tinggal beberapa hal kecil saja…”
Anna membiarkan Fatur berlalu.Dia tidak begitu mendengar apa yang dikatakannya.Bayangan itu semakin jelas.Sedikit demi sedikit nampak seperti sebuah film yang diputar kembali hanya saja membuat kepalanya seperti dibenturkan kedinding dengan cukup keras.
Sebuah perayaan…mungkin juga ulangtahun atau acara perpisahan.Anna pernah berada disana.Tanpa sadar Anna memukul kepalanya beberapa kali berharap rasa sakitnya hilang.Atau berharap kenangan itu menjadi jelas.Fatur menangkap tangan Anna ketika akan memukul kepalanya lagi.Membuat kenangan itu hilang sempurna dan yang ada hanya seraut wajah yang kelihatan sangat khawatir.
“Jangan siksa dirimu…”
Fatur menyodorkan sebutir obat sakit kepala dan secangkir teh hangat.Raut wajahnya masih sama bahkan kelihatan semakin cemas.
“Aku akan mengantarkanmu pulang dan jangan berdebat lagi.Aku tidak ingin melihatmu tergeletak diatas lantai dan pingsan.Wajahmu sangat pucat…jadi aku harap kali ini kamu mau menurutiku .”
Ucapan Fatur sangat tegas.Mungkin Anna bisa saja membantahnya tapi tubuhnya tidak bisa berkompromi.Anna memang butuh istirahat.Tapi hal itu tidak akan didapatnya bila sudah berada dirumah apalagi Reza mungkin belum pergi.
“Anak-anakku ada dirumah mama…jadi tolong antarkan aku kesana .”
“Baiklah…”
Tanpa menunggu lama Fatur membopong tubuh Anna menuju kedalam mobilnya.Sepanjang jalan Anna hanya memejamkan mata dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.Dia sangat terkejut ketika mobil berhenti dan sudah berada didepan rumahnya.Bagaimana Fatur tahu dimana rumah yang pernah ditinggalinya ketika sebelum menikah dulu.Pertanyaan itu untuk sementara disimpannya rapat-rapat.Laki-laki itu memang penuh misteri dan Anna berharap bisa mengenalnya lebih baik lagi.Tapi tidak sekarang…mungkin nanti.Anna merasa waktu sudah menjebaknya kedalam alur cerita yang penuh dengan harapan.Hanya saja bila sampai pada waktunya Anna berharap bisa melepaskan diri dan kembali sebagai seorang istri dan ibu.
*****
Reza menarik napas sambil menatap ruangan yang terasa hampa.Tidak ada siapapun disana kecuali kesunyian.Tidak ada bayangan lembut istrinya dan gelak tawa anak-anaknya.Baru kali ini Reza menemukan rumahnya kosong.Biasanya mereka selalu ada disetiap dia akan pergi ataupun pulang.Tapi Reza tidak memperdulikan mereka.Asyik didalam dunianya sendiri,asyik didalam sebuah permainan cinta yang sudah membuatnya tenggelam semakin dalam.
Reza tidak tahu kapan dia memulai permainan itu.Ketika tersadar sudah terjebak didalamnya dan tak mampu mencari jalan keluar.Reza sangat tahu yang ada didalam permainan itu hanya dosa dan pengkhianatan.Tapi waktu tak memberikan kesempatan sedetikpun untuk sadar dan kembali sebagai seorang laki-laki sejati.Sesungguhnya cinta untuk istri dan anak-anaknya masih sama besarnya seperti dulu.Hanya saja permainan itu sudah menyamarkan arti cinta yang sebenarnya.Mewujudkannya kedalam sesosok wajah cantik yang membuatnya hampir gila dan melupakan semuanya.Reza hanya perlu sedikit waktu lagi agar bisa menghapus kabut yang selama ini sudah menghilangkan pandangannya.Berharap kesempatan itu masih ada dan tidak membuat semuanya menjadi terlambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar